Masjid Jami Al-Mujahidin Desa Lili Riattang Kec. Amali Kab. Bone
CALAGENRENG AMALI
Senin, 05 Januari 2026
Kamis, 21 Oktober 2021
Desa Lili Riattang Amali: "Riwayatmoé Témpo Doéloé" (versi 2)
Oleh: M. Dalyan Tahir
Dosen Departemen Sastra Daerah FIB Unhas, Makassar
Email: m.dalyan1964@gmail.com
Desa
Lili Riattang Kecamatan Amali berjarak sekitar149 kilometer dari Kota Makassar Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Letaknya, berada di sebelah timur Kota Makassar berjarak sekitar 11 km dari wilayah perkampungan Koppe, jalan poros Makassar--Watampone Ibu Kota Kabupaten Bone. Desa Lili Riattang dapat dikunjungi atau ditelusuri melalui perjalanan darat dari Koppe, menyusuri jalan menuju Desa Lilina Ajangngale sampai dengan ke Desa Tea Musu Kecamatan Ulaweng. Desa Lili Riattang Amali, terletak di wilayah bagian barat Kabupaten Bone berbatasan dengan
Kabupaten Soppeng dan Wajo di sebelah barat dan utara dengan jarak kurang lebih 30 kilometer dari Taccipi
Ibu Kota Kecamatan Ulaweng atau sekitar 46 kilometer dari Kota
Watampone Ibu Kota Kabupaten Bone.
Salah satu sumber informasi berupa versi Sejarah Lisan Calagenreng menjelaskan, bahwa cikal bakal Desa Lili Riattang pada zaman dahulu adalah sebuah wanua atau perkampungan kuno bernama Calagenréng (paccala' +benreng); kepala pemerintahannya bergelar anreguru (sekitar abad ke-16). Struktur dan makna kata anreguru menurut beberapa sumber, terbentuk dari dua dasar kata, yaitu (p)anre dan guru. Oleh karena itu, kata anreguru berarti "maha guru atau guru yang mengajar guru" (Said, 1977:77). Dalam Lontarak La Toa di dijelaskan oleh Mattulada (1985) istilah anreguru sudah digunakan sejak abad XV di lingkungan Kerajaan Bone dengan pengertian "sebuah jabatan teknis di kerajaan yang mengepalai satu urusan khusus". Pada masa itu, tersebutlah beberapa jenis jabatan anreguru, seperti (1) anreguru anakarung, (2) anreguru pakkinnyarang, (3) anreguru pakkalawingepu, dan beberapa lagi jabatan anreguru yang tiadak disebutksn di sini. Alimuddin Page' (1903) menjelaskan, bahwa ada dua wanua di wilayah bagian barat Kerajaan Bone yang dipimpin oleh anreguru, yaitu (1) Wanua Botto (Tabbae) dipimpin oleh La Manna' dan (2) Wanua Calagenreng dipimpin oleh La Camma'. Beriringan dengan perkembangan zaman dan perubahan waktu, pengertian kata anreguru yang berlaku pada masa Arumpone dahulu kini telah mengalami penyempitan makna. Makna kata anreguru yang benkembang pada masa kini lebih spesifik, yaitu hanya merujuk kepada seseorang yang ahli atau menguasai ilmu agama Islam atau lazim disebut alim ulama. Pengertian kata anreguru sekarang, sangat terbatas dan hanya disepadankan dengan pengertian kata anregurutta (Arg). Berbeda dengan itu, pengertian kata anreguru pada masa lalu, merujuk pada sebuah jabatan teknis dan strategis di Kerajaan Bone. Istilah anreguru telah dijeskan pula oleh pengelola Museum Lapawoi Karaeng Sigeri, yaitu Andi Baso Bone pada tahun 2021. Bahkan, dalam penjelasannya dipertegas pula bahwa semua daerah palilina Bone dan pemerintahan anreguru memiliki lontarak akkarungeng. Hanya, pada masa dahulu lontarak daerah-daerah tersebut sudah diserahkan semua kepada kepala pemerintahannya masing-masing.
Jauh sebelum lahirnya Wanua Calagenreng, sudah terbentuk beberapa perkampungan tua, yaitu Salo Pusae dan Tanjongnge, dan beberapa lagi nama perkampungan tua terbentuk kemudian seperti Abbanuangnge, Messangeng, Paccella' dan benerapa lagi yang tidak disebutkan karna blm cukup data. Status Calagenreng pada masa Kerajaan Bone, sederajat atau setingkat dengan status distrik atau kecamatan sekarang. Hingga saat ini, diperkirakan telah terjadi 24 kali pergantian dan penggantian kepala pemerintahan di Calagenreng. Rinciannya yaitu 1 periode Salo Pusae, 11 kali periode anréguru, 4 kali periode kapala wanua (wilayah) dan 8 kali pula periode kepala desa, termasuk di dalamnya Pjs. kepala desa.
Sistem pemerintahan tradisional di Calagenreng pada masa dahulu dikenal dengan istilah anreguru. Anréguru pertama yang memerintah ialah La Camma' matinroe--ri tonrong Salo Kessi-- Calagenreng dengan gelar (1) Anréguru Calagenréng (pemimpin daerah yang dipersengketakan), (2) Anréguru Pakkinnyarang (pemimpin pasukan berkuda), dan (3) Anréguru Pallawarukka (penegah konflik). Gelar Anréguru (Pa) Calak Benréng--disebut demikian--karena ia dilantik untuk memerintah dan berkuasa penuh (otonom) di sebelah kiri-kanan kerajaan-kerajaan kecil (palilina Bone) di wilayah Bone bagian barat oleh Raja Bone ke-16 La Patau Matanna Tikka pada tahun 1696-1714.
Berdasarkan hasil penelusuran penulis, tentang keberadaan lontarakna Calagenreng, beberapa pihak menyatakan lontarak tersebut hilang, ada yang meminjam tidak dikembalikan, dan ada pula yang menyatakan sudah terbakar pada zaman gerilya (gurilla) dan DI/TII masa Kahar Musakkar. Berdasarkan sejarah lisan Calagenreng (1990/1992) di Wanua Calagenreng telah beberapa kali penggantian anreguru (sejumlah nama anreguru) tidak diulas secara menyeluruh dalam blog ini, karena ketidaklengkapan data seperti: La Padda', La Tatong, La Geddong, La Palinri', dan La Kiti'. Tersebutlah pula salah seorang anreguru yang berpengaruh, bahkan menjadi penasihat kerajaan pada masa pemerintahan raja Bone ke-31 La Pawawoi Karaéng Sigeri (1895-1905), yaitu Anreguru La Kuda’ (VII). Bahkan, dikabarkan bahwa anreguru ini pernah menempati jabatan rangkap selaku kapala/arung Botto Penno. Peran rangkap seperti itu, terjadi pula pada diri Anreguru La Palinri' yang menjalankan dua tugas secara bersamaan pada zamannya, yaitu (1) selaku pemerintah dan (2) pemuka agama Islam di Calagenreng. Bukan karena tidak ada turunan arung (bangsawan), melainkan karena adanya aturan mallari ade' yang berlaku pada masa pemerintahan anreguru, yaitu "Temmakkarung cera'e kemmattola rajengnge" di Calagenreng, sebuah wilayah otonom (tenri ala rece pasana, tenri waja tampa welennana) yang diperintah oleh anreguru secara turun-temurun selama 11 kali periode pergantian kepala pemerintahan.
Pada paruh waktu terakhir pemerintahan Belanda, Calagenréng dipimpin oleh Anreguru La Duke’. Dalam sejarah perkembangannya, La Duke' memiliki beberapa keturunan, yaitu Ngitung, Sakki', Memme', Mappa, Condong, dan Nibe'. Dialah La Duke' anreguru ke-10 di Calagenreng menggantikan La Kiti'. Dalam riwayat disebutkan bahwa, pada saat Anreguru La Kiti' meninggal, beberapa hari kemudian (kurang lebih tiga hari) baru beliau dikebumikan karena menunggu ada penggantinya dari kalangan bati anreguru. Pada saat itu, menantu Anreguru La Kiti' yaitu La Paso' (saudara ipar La Mabe') salah seorang bati anreguru dimintai kesediannya oleh tetua ade' untuk menjadi anreguru di Calagenreng menggantikan mertuanya. Namun, La Paso' menolak, dan memberikan peluang dan kesempatan itu kepada para abbatireng anreguru yang memiliki kemampuan yang lebih "mumpuni" untuk mpiseangngi dan patokkongngi siri tanana Calagenreng.
Berselang beberapa saat kemudian, masalah tersebut disikapi oleh La Segang saudara kandung La Malollo cucu Anreguru La Tatong, mewakili dewan adat (La segang) memutuskan dan memerintahkan agar jenazah Anreguru La Kiti' segera dikebumikan; dan akan digantikan oleh La Duke'. La Duke' saudara kandung La Massi', mereka berdua adalah wijanna I Kami dan La Kamba'. Dalam proses dan situasi menegangkan itu, La Duke' dipasaleppangi jabatan anreguru untuk melanjutkan kesinambungan pemerintahan anreguru di Calagenreng, menggantikan Anreguru La Kiti'. Dalam riwayat lisan dijelaskan bahwa, proses pengalihan kepemimpinan tersebut ditempuh oleh La Segan (bapak La Rajji) bersama dengan pakkatenning ade' (dewan adat), mengantisipasi supaya tidak terjadi kekosongan pemerintahan anreguru di Calagenreng.
Beberapa riwayat dan kesaksian lain menjelaskan bahwa, ada beberapa keturunan pewaris La Paso' (Lato' Paso'), yaitu Minnong, Nara, Milo', Maddila, dan Mappiare'. Demikian pula saudara kandung Anreguru La Baba', yaitu La Mabe' memiliki beberapa keturunan , yaitu, Kaseng dan Masu'. Rumpun keluarga Anreguru Calagenreng telah diserahi arajang oleh Arunmpone, berupa waju rante (waju pammusu), ana' beccing dll. Arajang tersebut, diberikan kepada rumpun keluarga ini, sebagai sebuah simbol pengesahan pemerintahan anreguru di Calagenreng. Pada masa dahulu, arajang tersebut dipakai sebagai pakaian kebesaran pada saat pelantikan anreguru di Kampung Palakka oleh Arumpone. Baju arajang ini, juga dipakai untuk memimpin peperangan, terbuat dari rantai besi baja; dan beberapa benda peralatan rumah lainnya seperti "addeneng subbi' tellu tayyana dan aliri bola makkalepu (tiang rumah berbentuk bulat)" sebagai simbol status dan penanda rumah keluarga anregurue di Calagenreng. Berdasarkan keterangan lisan dari tokoh masyarakat dan para wija anreguru di Calagenreng, bahwa beberapa anreguru di Calagenreng ada yang tidak dilantik lansung oleh Arumpone. Mereka dipasaleppangi jabatan Anreguru karena memenuhi syarat adat berdasarkan abbatirenna (lih. lontara panguriseng) selaku penerus (pattola anreguru) yang telah dipersiapkan mpiseangngi Wanua Calagenreng. Menurut kesaksian Abd. Kahar (46 th), salah seorang abbatireng anreguru, cucu I Minnong dan Supu' pernah menemukan pusaka Anreguru Calagenreng di Salo Pusae, berupa keris n badik, Ketika itu, ia balik ke rumahnya di Tobenteng dari Salo Pusae hendak menyampaikan penemuan pusaka tersebut kepada keluarga. Namun, setelah ia kembali lagi ke Salo Pusae untuk mengambilnya, pusaka tersebut sudah menghilang dari tempat semula di Salo Pusae.
Selama pemerintahan La Duke', yaitu, pada masa zaman Balandae (La Pute Mata), perbaikan kembali jalan raya poros Tobenteng-Alingé dikerjakan bersama-sama dengan Pabbicara Tapa di Alingé. Anreguru La Duke’ mengerjakan bagian utara pohon Taroé (wilayah Calagenreng) dan Pabbicara Tapa, sepupu dua kali La Duke' dari rumpun Salo Pusae mengerjakan bagian selatan pohon Taroé (wilayah Tawara Alingé). Hal lain yang menarik adalah, pada masa pemerintahan La Duke', tanah ongkoe di Lagarutu', ale' Labae, galung tettongenna Calagenreng (Anrangae) dikelola penuh oleh Anreguru Calagenreng setelah mendapat persetujuan dari Arumpone. Sebelumnya, Lato' Kele pernah mengusulkan kepada Arumpone masalah pengelolaan Lagarutu' tetapi belum disetujui untuk dikelola secara penuh pada saat itu.
Generasi Anreguru setelah La Duke’ ialah Anreguru La Baba (X). Anreguru La Baba' memimpin pemerintahan di Calagenreng pada saat kedatangan Petta Marilalengnge dari Kerajaan Bone datang meninjau batas-batas wilayah admistratif Calagenreng pada saat itu (diperlukan data untuk melengkapi riwayat Anreguru La Baba')
Pelaksana anreguru setelah La Baba, adalah La Baco (XI) pada masa perang gerilya (wettu gurilla) sampai dengan menjelang zaman kemerdekaan selama kurang lebih 8 bulan pada masa pemerintahan Raja Bone ke-32 La Mappanyukki (Andi Mappanyukki). Pada masa itu terjadi penciutan sebagian wilayah administratif Calagenréng oleh Arung Ulaweng dan Amali (A. Pangngeleng Petta Tekko). Terkait dengan perkara tersebut, La Baco menghadap kepada Andi Mappanyukki, Raja Bone ke-32 untuk meminta pertimbangan supaya wilayah Calagenreng “jawang tattana/jawang sepe'” dikembalikan dan tidak beralih ke Botto Penno wilayah kekuasaan Arung Amali. Pada masa itu, La Baco tidak setuju atas kebijakan Andi Panggeleng Petta Tekko mengambil dan menggabungkan sebagian wilayah Calagenreng ke Botto Penno menjadi wilayah kekuasaan Amali (lih. riwayat Botto Penno) dan sebagian wilayah Calagenreng diambil oleh Alinge dengan memindahkan batas daerah dari pohon taroe (Tawara) ke Toddang Kessi'. Akhirnya, La Baco--menantu Anréguru La Duke’--menyampaikan lansung kepada Puatta (Raja Boné ke-32) tentang keinginannya untuk meyatakan diri berhenti dari jabatannya sebagai pelaksana tugas harian (plt) anréguru di Calagenréng, jika semua daerah yang dulu pernah dikuasai oleh Anreguru La Duke tidak dikembalikan ke wilayah Calagenreng. Rumpun keluarga dan saudara-saudara kandung La Baco, yaitu I Hami, I Maru, I Tondeng, dan Hamsah (Massa) turut merasakan masa-masa akhir pemerintahan anreguru di Calagenreng. Mereka, terutama La Baco menentang keras sikap sepihak para arung yang mengebiri dan menciutkan batas-batas teritorial dan administratif Wanua Calagenreng menjelang masa pergerakan memasuki gerbang kemerdekaan dari penjajahan Belanda.
Sejak periode pemerintahan Anreguru La Baba (X) dan (plt) anreguru (XI) La Baco berakhir, maka status Calagenréng memasuki masa transisi dari periode anreguru ke periode kapala wanua (lih. indo’/matoa anang atau kawerang). Dengan demikian, jabatan anreguru tidak berlaku lagi. dan dinyatakan berakhir. Jabatan anreguru berganti nama menjadi jabatan kapala wanua di Calagenréng. Situasi ini berjalan seiring dengan adanya perubahan situasi politik pada masa perang gerilya (wettu gurilla). Sebagai konsekwensinya adalah penunjukan dan pemilihan kepala pemerintahan di Calagenréng tidak lagi berdasarkan atas kesamaan asal-usul (abbatireng) Anreguru Calagenréng.
Pada masa peralihan atau penggantian sistem pemerintahan dari anreguru ke kapala wanua, tidak ada lagi jabatan/gelar anreguru bagi seseorang yang memimpin pemerintahan di Calagenreng. Sistem pemerintahan kapala wanua, bermula pada saat Andi Paddenggeng Petta Tana ditunjuk sebagai kapala wanua pertama di Calagenréng (1938-1949). Sebab-musababnya adalah konon kabarnya, ibu Petta Tana, yaitu Puang Pale' masih memiliki hubungan famili (assitepa-teppang) dengan keluarga besar I Kindong istri La Duke'. Ikatan keluarga assiteppa-teppang itu, memuluskan penunjukan Andi Paddengngeng sebagai kapala wanua. Hal tersebut, ditempuh setelah mendapat persetujuan dari mantan Anreguru La Baba' dan para tokoh masyarakat, di antaranya yaitu (1) Baco Kaci’ (2) Haji Massére’, (3) Haji Koaseng, dan (4) Sume’ Kattu beserta beberapa tokoh penting masyarakat di Calagenreng. Beberapa riwayat menjelaskan, bahwa sebelum menjalankan pemerintahan di Calagenreng, Andi Paddengngeng telah menyetujui ulu ada (kontrak politik) dengan Anreguru La Baba'. Salah satu isi kesepakatan tersebut adalah kapala wanua harus didampingi oleh juru tulisi' (sekretaris) dari wija to Calagenreng; maka disepakatilah pula Barike' Jaga mendampingi Andi Paddenggeng pada saat itu. Dalam kesepakatan tersebut, juga berisi penegasan agar Andi Paddenggeng tidak melanggar ade' puara onrona Calagenreng, tidak bertindak sewenang-wenang kepada warga masyarakat dan rumpun keluarga para Anreguru Calagenreng. Jika ade' asiituruseng ini diingkari, akan terjadi bala bencana dan maponco' sunge' i lettu' ri paddimunrinna. Sejak diikrarkannya kesepakatan itu, Andi Paddengngeng Petta Tana menyatakan dengan penuh kesadaran akan memegang teguh kontrak politik (kesepakatan) dan beliau akan mpiseangngi (memerintah) Calagenreng sampai dengan masa akhir hayatnya pada tahun 1949.
Setelah Calagenreng mengalami empat kali penggantian kapala wanua (Kapala Wanua ke-2 adalah Nire’ , Kapala Wanua ke-3 Ngulu, Kapala Wanua ke-4 adalah Sirajuddin Daéng Patangnga. Secara spesifik, menurut penjelasan lisan warga Calagenreng, bernama Ponggawa LaSa', bahwa "Sirajuddin Dg. Patangnga merupakan salah seorang kapala wanua yang kharismatik, dan disegani di Calagenreng pada masanya. Dikisahkannya bahwa, pada waktu masa-masa sulit kehidupan masyarakat Calagenreng di Tanjongnge pada masa gerilya dan (DI/TII), beliau tampil mengayomi dan memberikan rasa aman kepada warga Calagenreng". Berdasarkan silsilah, secara geneologis, Sirajuddin Dg. Patangnga adalah wijanna (anak Cucu) La Tungga'. Dalam riwayat lisan disebutkan bahwa La Tungga' bersaudara kandung dengan Anreguru La Tatong di Calagenreng. Pada masa pemerintahan Sirajuddin Dg. Patangnga--selaku kapala wanua--beliau mendatangkan seorang guru agama Islam, (1) Muh. Saleng (2) Tuangguru Tahere' (Tuan Guru Tahir) putra Chalide Mannu dari Wanua Pappolo Ajallaleng Distrik Ajanggale untuk membina perguruan Islam di madrasah dan di masjid Tanjongnge Calagenreng. Pada masa itu, masyarakat Tobenteng/Calagenreng khususnya perempuan masih melakukan ibadah berjamaah di masjid pada hari Kamis dengan istilah Makkammisi. Menurut kesaksian H. Muh. Yunus Dg, Manabba, posisi strategis dan geopolitik Calagenreng masih sangat terasa sampai dengan masa akhir pemerintahan kepala wanua ke-4, yaitu Sirajuddin Dg. Patangnga. Setiap kali beliau (Dg. Manabba) mewakili ayahandanya untuk bertemu dengan Sulewatang Ulaweng (petta cama cua) Andi Makkulawu, Calagenreng diperlakukan secara "istimewa" berbeda dengan wanua-wanua lain yang ada di wilayah Sulewatang Ulaweng (H. Daeng Manabba, 2026)
Siarajuddin Dg. Patangnga, dikenal pula sebagai seorang tokoh yang tangguh dan berbakat dalam urusan perniagaan (pedangang tembakau). Bakat niaga tersebut, telah menurun kepada salah seorang putranya bernama Muh. Yunus Daeng Manabba' yang dikenal sebagai saudagar sukses pada zamannya. Beliau mengadakan mesin genset (listrik) swasta untuk menyuplai kebutuhan listrik di Tobenteng dan Botto Penno pada tahun 80-an. Sebelum menekuni bisnisnya, Dg. Manabba' pernah mengajar di madrasah, yaitu perguruan Islam di Tanjongnge dan Tobenteng Kini, jalur bisnis beliau dilanjutkan oleh salah seorang putranya. Seorang lelaki paruh baya mewarisi "darah pebisnis" dari leluhurnya. Bahkan, sekarang dia terbilang sukses mengembangkan jaringan bisnis modern UD Calagenreng di Desa Lili Riattang Amali.
Pada masa sistem pemerintahan anreguru dan kapala wanua, wilayah admistratif Tobenteng masih bernama Wanua Calagenreng. Namun, pada tahun 1964 wilayah Calagenréng berubah status menjadi sebuah desa gaya baru dengan nama Desa Lili Riattang. Pembentukan desa--gaya baru ini--Lili Riattang--didasari oleh Surat Keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Provensi Sulawesi Selatan No. 450/XII/1964. Surat keputusan ini, menyebutkan bahwa sebuah desa dipimpin oleh seorang kepala desa. Pada masa itu, Desa Lili Riattang masih berada di bawah wilayah pemerintahan administratif Kecamatan Ulaweng. Hal tersebut, berbeda statusnya ketika Calagenréng masih dipimpin oleh para anréguru, wilayah Calagenréng berdiri sendiri (otonom) sejajar dengan Suléwatang Ulaweng (Arung Ulaweng) dan tidak pernah marola (mengikut atau menjadi bagian) dari wilayah Akkarungeng Amali. Para anreguru di Calagenreng pada masa itu, bertanggung jawab langsung kepada Mangkau-é ri Bone (Muhammad Darwis, 1990).
Kepala desa yang pertama ialah Andi Muh. Rapy Petta Nippi, putra Petta Tata dan Petta Tenne. Beliau adalah salah seorang cucu H. Andi Takka (Petta Timusu) wijanna Petta Ponggawae Andi Abdul Hamid Baso Pagilingi. Pada saat itu, Desa Lili Riattang masih memiliki tiga dusun, yaitu 1) Dusun Tobenteng, 2) Dusun Botto Penno, 3) Dusun Labae. Pada masa itu, Desa Lili Riattang berada pada masa gemilang. Perekonomian rakyat pada masa itu bergerak dan membaik, tata kelola Pasar Tobenteng teratur dan rapi. Demikian pula, aheng dan pasesung pasa terkelola dengan baik dikendalikan oleh dua petugas tetap, areal parkir atau akkandangengeng otoe jelas tempatnya tidak bercampur baur dengan pabbalu-balue, assiwollong-pollongeng menguat, kegiatan keagamaan menyatu antara ulama dan umarah dan cukup meriah. Remaja Masjid Almujahidin, mengisi ruang-ruang hiburan di desa setiap malam lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha) selama kurang lebih lima tahun. Hal istimewa, tecatat pada sekitar tahun 80-an Lili Riattang pernah menjadi juara lomba desa tingkat Kabupaten Bone. Pesta Rakyat musiman di Lempongnge dan kegiatan perekonomian rakyat "Mappasa Raweng" dengan berbagai kuliner tradisional, seperti nasu bale tekko, nasu likku dan sokko lotong, nasu lenrong dan tumbu' (kampalo), coto nyarang dan pijja nyarang; kadang-kadang ada juga tua' ase dan berbagai masakan tradisional lainnya yang berada di sekitaran Pasar Inpres Tobenteng (pasa lima-lima) pada malam dan siang hari setiap Kliwon pada penanggalan Jawa.
Roda pemerintahan terkoordinasi dengan ketua RT dan Kapala Dusun, tokoh agama dan masyarakat, serta Hansip. Hal menonjol dan demokratis pada masa itu, adalah Petta Desa memberikan kesempatan kepada generasi muda pattola palallona Lili Riattang untuk manganro ri ade', mengoreksi, memberi saran, terhadap rencana kerja desa pada perayaan hari-hari besar Islam dan kepanitiannya diserahkan kepada Remaja Masjid Almujahidin. Program kerja yag monumental adalah terlaksananya program ABRI Masuk Desa bersama-sama dengan masyarakat membangun sarana dan prasarana di Desa Lili Riattang, seperti renovasi gedung Madrasah Ibtidaiyah, tempat ibadah, dan beberapa kullang tempat mandi umum (MCK). "Tentu saja ada kekurangan-kekurangan yang terjadi pada masa pemerintahannya". Demikian, kenangan beberapa warga Tobenteng yang mengenang jejak masa-masa indah dan kejayaan Lili Riattang masa lalu pada tahun 70-an s.d. tahun 90-an.
Masa pemerintahan Petta Nippi berlangsung kurang-lebih 26 tahun. Baru pada tanggal 6 Juli 1990 berakhir, dan diganti oleh salah seorang staf administrasi pemerintahan Kecamatan Ulaweng. Bupati Kepala Daerah Daerah Tingkat II Bone pada masa itu menunjuk Muh. Saleh Rauf. Salah satu di antara 40 pejabat sementara kepala desa (Kades) di seluruh Kabupaten Bone. Setelah Muh. Saleh Rauf menjabat kurang-lebih satu tahun, maka diadakan pemilihan kepala desa dan terpilih kepala desa definitif, yaitu A. Asri Sésé Petta Maro. Menyusul kepala desa berikutnya secara berturut-turut adalah A. Ahmad Petta Pata, Andi Cawe' Petta Lolo, dan Andi Sukmawati. Pada tanggal 18 November 2021, telah diadakan pemilihan kepala desa serentak sebanyak 177 desa di Kabupeten Bone. Desa Lili Riattang Amali diikuti oleh kandidat calon kepala desa, yaitu Andi sukmawati dan Andi Tenri Laliang. Pada saat itu, Andi Sukmawati, S.I.P. wijanna Andi Ahmad Petta Pata dan Andi Juhaeri terpilih kembali menjadi kepala desa periode ke-2 sampai dengan sekarang. (data dan fakta tentang masa pemerintahan para kepala desa pada masanya, diperlukan untuk menyempurnakan draf tulisan ini).
Batas geografis Desa Lili Riattang berubah sejak pemekaran Desa Amali Riattang pada tahun 1999 berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) Nomor 2 Tahun 1999, Desa Lili Riattang Kecamatan Amali hanya terdiri atas dua dusun, yaitu Dusun Calagenreng dan Dusun Tobenteng. Dusun Botto Penno dan Dusun Labae menjadi bahagian Desa Amali Riattang sekarang. Beberapa masalah penting dan mendesak yang harus disikapi oleh Pemdes Lili Riattang (1) Penataan Pasar Inpres Tobenteng. Kini, kondisi "wajah" Pasar Tobenteng sangat kumuh, areal parkir mobil menjadi menyempit dan tidak tertata karena ditempati oleh pedagang/penjual. Los pasar bagian depan berubah bentuk dan nenempati areal parkir mobil dll. (2) Masalah kedaulatan wilayah. Dengan adanya penciutan wilayah akibat berpindahnya batas Desa Bila sekitar 25 meter sebelah timur "Balombongnge/dekkere'e" ke arah Tobenteng, yang sesungguhnya sejak dahulu batas antardesa berada sekitar "Balombongnge/dekkere'e" di sebelah barat/utara ke arah Desa Bila (Lih. masa pemerintahan Petta Nippi dan Petta Maro). Peran, diplomasi, dan tanggung jawab kepala desa dibantu oleh masyarakat sangat menentukan masa depan dan kemajuan Desa Lili Riattang.
Demikian pula, "konon kabarnya" desa-desa lain di sekitaran Lili Riattang pada umumnya makkoti' maneng ke wilayah Desa Lili Riattang. Kini, masih terdapat jejak Tanempatunna to Lappa Diawoe, di Tobenteng. "Nigi-nigi lukkai tanempatukku, tetti' daamaa i paddimunrinna". Begitulah pesan mereka! Letak lokasi ini, berada di belakang rumah Petta Nippi atau di belakang rumah H. Rammatang sekarang. Sebuah simbol dan situs benteng pertahanan Tobenteng di Calagenreng.
Untuk mengenang dan mengabadikan sejarah Calagenréng dan La Camma di Desa Lili Riattang Amali, para wija anreguru telah mendirikan sebuah yayasan nirlaba, yaitu Yayasan Anreguru La Camma (La Camma Centre). Yayasan ini, menaungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah (unit usaha lain akan dibuka) di Tobenteng Desa Lili Riattang Kec. Amali Kab Bone, Selaras dengan hal itu, di desa ini, terdapat situs sejarah berupa makam keluarga Anreguru La Camma di Tonrong Salo Kessi' dan makam Andi Paddengngeng Petta Tana (Kapala Wanua 1) yang mangkat pada tahun 1949. Kuburan Andi Paddengngeng berada pada kompleks makam keluarga Petta Kapala di Pekkae sebelah barat Pasar Inpres Tobenteng.
Hal lain yang penting dan perlu dipahami bersama, adalah keberadaan jalanan atau lorong yang terletak di sebelah timur sekolah MIS Tobénténg; atas persetujuan keluarga akan diberi nama Jl. Pendidikan atau Jl. Anreguru La Duke'. Jalanan setapak ini, merupakan hak milik pribadi yang disumbangkan untuk kepentingan umum kepada masyarakat Calagenréng oleh keluarga besar (almarhum) Tuangguru Tahere'. Jalanan ini, diharapkan tidak berganti nama dan tidak dialihfungsikan pemanfaatannya oleh pihak-pihak lain yang tidak berhak, tanpa persetujuan tertulis dari ahli waris. Beberapa pula jalanan/lorong, di Desa Lili Riattang telah diberi nama berdasarkan nama-nama pejabat pemerintah desa dan leluhur mereka pada zamannya; seperti Jl. Andi Paddengngeng, Jl. Andi Sese dan Jl. Andi Banono dll.
Salo Pusae yang menjadi cikal bakal pertama Desa Lili Riattang, pada awalnya adalah pertemuan beberapa hulu dan hilir sungai, sehingga tidak dikenali lagi hulu dan hilir utamanya. Hal tersebut, menyebabkan warga kebingungan (pusai) mencari jaringan hulu sungai utamanya. Salo pusae bukan hanya sebuah areal permukiman kuno, tetapi ia menjadi simbol peradaban dan kehidupan baru dan keberlansungan para pemimpin kaum, para anreguru, para kapala wanua di wilayah barat Tana Bone. Inilah cikal bakal wanua tempo dulu yang dipimpin oleh Lato' Salo Pusae (Lambong dan Cuppeng) sebelum lahirnya wanua Calagenreng.
Berdasarkan kesaksian masyarakat dan sejarah lisan diketahui bahwa di Calagenreng, bermukim seorang tokoh legendaris dan kharismatik yang cukup disegani di Calagenreng dan Tana Bone pada masa itu. Ia adalah La Massawerang Daeng Patobo--uranena urane--seorang lelaki Bugis yang tangguh, memegang teguh prinsip ada na gau, tessalai janci tessorori ulu ada, menghormati martabat perempuan; wijanna I gulinra Daeng Matareng dan I Badaria Daeng Mabere'. La Massawerang Daeng Patobo (Petta Tobo) memilki peran penting dalam menjaga kestabilan pangadereng dan marwah masyarakat di Calagenreng dan Tana Bone. Ia mewarisi abbatireng arung dari silsilah dan titisan kebangsawanan (stamboom) La Temmassonge, menurun ke La Tone (La Patonangi) Arung Amali, dan menurun lagi sampai ke La Ukke' Daeng Parebba Arung Amali. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, La Ukke' bersaudara dengan La Tangnga Arung Jaling. La Temmassonge yang digelari Sultan Abdul Razak Jalaluddin adalah Raja Bone ke-22 (1749-1775) dan Datu Soppeng ke-XXV.adalah putra La Patau Matanna Tikka dan I Akiya Datu Baringeng. La Patau Matanna Tikka adalah Raja Bone XVI, memerintah pada tahun 1696-1714 . La Temmassonge dikenal sebagai seorang raja yang tangguh dan memiliki keeratan kekerabatan dengan kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan (Petta Aji Suro, 2026).
Beberapa nama tokoh masyarakat di Calagenreng belum terdata lengkap, seperti H. Muh. Amin (Tuang Amin), Junaide', dan tokoh-tokoh lain. Jejak para tokoh tersebut akan ditelusuri melalui ahli warisnya masing-masing.
Putra-putri wija Calagenreng sekarang, sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Mereka berkiprah dan berprofesi sebagai pebisnis, pegawai pemerintah dan swasta dll. Mereka telah sukses membangun kepercayaan diri di wilayah rantau dan tetap menjaga semangat dan marwah Calagenreng, kampung halamaman "tanah tumpah darah" yang menjadi tempat bertumbuh dan berkembang pada masa kecil. Sebuah kampung tradisional dipelosok desa yang telah mendidik dan membesarkan mereka dengan suasana alami "assimellereng, asitinajang, alempureng, rebba sipatokkong, sipakainge maingepi napaja, sirui menre' tessirui no". Mereka berharap, semoga Calagenreng tetap menjadi wanua persemaian bibit, bebet, dan bobot manusia Bugis sejati yang akan menorehkan purta-putri bangsa yang teguh menjaga siri dan pessena (harga diri dan solidaritas) Calagenreng secara berkelanjutan. Seperti dalam pepatah Bugis “Buruq buku-buku, tebburuq pau-pau”.
Kisah Calagenreng merupakan salah satu tonggak sejarah Desa Lili Riattang Amali yang menginspirasi Tana Bone. Kearifan lokal dalam kisahnya mengalir deras, sederas aliran air Sungai Salo Pusae yang tiada henti mengukir makna dan kehidupan baru masyarakat Calagenreng tempo dulu hingga kini. Harapan penulis, kiranya seluruh sahabat, keluarga, puang dan petta, serta masyarakat lain yang memiliki riwayat atau kisah tentang Calagenréng pada masa lalu dan kini, dapat berkontribusi menyempurnakan tulisan ini untuk menyonsong masa depan asalewangenna Wanua Calagenreng.
Goresan pena dalam Blog ini akan disempurnakan seterusnya sesuai dengan fakta yang ada, sebelum di cetak dan dipublikasikan menjadi sebuah dokumen sejarah lokal di Tana Bone. Tabe' maraja! Beberapa uraian tentang anreguru, kapala wanua, dan kapala desa belum lengkap dalam uraian ini, Kekurangan-kekurangan tersebut, akan segera ditelusuri pada masa-masa mendatang. Luttu beppajae teppaja pau-paue.
Kuru' Sumange'. Salam Sejahtera, ewako!
Referensi dan informan:
1. Mattulada. 1985. Latoa: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik
Orang Bugis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
2. Ali, Andi Muhammad. 1986. Bone Selayang Pandang.
3. Darwis, Muhammad. 1990. Profil Masyarakat Desa di Sulawesi Selatan.
Ujung Pandang: Lembaga Penelitian Unhas.
4. Dg. Patangnga, Sirajuddin. 1992. Ammulangenna Desa Lili Riattang.
5. Kattu, Sume'. 1992. Calagenreng Wettu Gurilla.
6. Chalid, M. Tahir. 1992. Appongenna Tana Ongkoe Lagarutu' na Ale' Labae.
7. Mande', Haji. 1992. Ammulangenna Wanua Alinge.
8. Rakka, Petta. 1992. Passeajingenna Petta Tobo ri Calagenreng.
9. Massira, 1992. Abbanuangnge ri Calagenreng.
10. Junaide'. 1992. Galung Tettongenna Calagenreng: Anrangae na Abbekkae.
11. Panggo', Lamma'. 1992. Pakkaseseanna Inrelleng na Botto Penno.
12. Tahir, M. Dalyan. 1992. Legenda Nama Tempat di Desa Lili Riattang
Kecamatan Ulaweng Kabupaten Bone. Ujung Pandang: Lembaga Penelitian Unhas.
13. Page', Alimuddin. 1993. Anreguru Botto dan Calagenreng.
14. Hami', Haji. 2018. Pasar Tobenteng: Pasa Lima-Lima kliwon.
15.Tahir, M. Dalyan dkk. 2018. "Pendokumentasian Cerita Rakyat Bugis
di Desa Lili Riattang Kecamatan Amali Kabupaten Bone". Makassar: FIB Unhas.
16 Samsuddin, Haji. 2019. Tana Angkonarenna Botto (Tabba'e).
17. Lasa'. 2019. Apparentangenna Sirajuddin Dg. Patangnga ri Calagenreng.
18. Sakki', Tahang. 2020. Pangurisenna Anregurue ri Calagenreng.
19. Baso Bone, Andi. 2021. Museum La Pawawoi Karaeng Sigeri:
Para Pakkasuwiang.
20. Sanusi, Muhammad Nasir. 2021. Bicaranna Botto Penno na Bila.
21. Kaseng, Haeruddin. 2021. Apparentangenna Andi Paddenggeng
ri Calagenreng.
22. Dg. Manabba, Muhammad Yunus. 2026. Jejak Sejarah Sirajuddin
Dg. Patangnga dan Pembangunan Masjid Almujahidin Tobenteng.
23. Petta Suro, Andi Muh. Yahya. 2026. Kekerabatan La Ukke dan
Anreguru Calagenreng.
24. Kahar, Abdul. 2026. Misteri Pusaka Anreguru Calagenreng di Salo Pusae.
*Uraian lebih lengkap dapat dibaca pada
“Pau-Paunna Calagenréng: Lintasan Tradisi
dan Sejarah Lisan Tana Boné (versi 3)”
Selasa, 19 Oktober 2021
Sejarah Singkat Desa Bila Amali
Desa Bila Kecamatan Amali Kabupaten Bone berjarak sekitar 150 km dari arah timur Makassar Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Menurut sejarah lisan yang beredar di masyarakat, wilayah ini bernama Bila karena dahulu kala di wilayah ini banyak tumbuh ‘aju bila’ (batang maja), rumah dan penduduk wilayah tersebut masih kurang (dibila-bilang mupa). Pada masa itu hampir seluruh wargan masyarakat menggunakan "aju bila"sebagai pagar pembatas.
Wanua Bila pada masa lalu didukung oleh persekutuan beberapa
wilayah kecil yaitu 1) wilayah sekitar Sare’ Bila, 2) Lawari, 3) Talotoe,
4) Cinennung, 5) Cakkarape, 6) Cenranae, dan beberapa
lagi daerah persekutuan di sekitarnya, seperti Jampae, dan Cebba'. Wilayah
Bila memiliki peran penting dalam konteksasi pemerintahan dan perpolitikan di
Amali pada masa lalu. Disebutkan dalam beberapa kisah tokoh-tokoh seperti, Nene Sakaria yang menjalankan
fungsi-fungsi pakbicara (hakim) untuk ikut mengadili dan memutus perkara-perkara
yang ada di Akkarungenna Amali pada masa Kerajaan Bone.
Para matoa dan kepala desa yang pernah memimpin Wanua Bila:
1.
Sanggè
2.
La Becceng
3.
Sakaria
4.
Parebba
5.
Toanging
6.
Parakkasi (Matoa Bila)
7.
Andi Mappatoba (Kades Ulaweng Riaja)
8. Muhammad Aras (Desa persiapan Bila)
9. Agustang Parakkasi
10. Salma Agustang
Pada masa pemerintahan Andi Mappatoba kepala Desa
Ulaweng Riaja Kecamatan Ulaweng yang memerintah kurang lebih 35 tahun, wilayah
Bila masih merupakan bahagian Desa Ulaweng Riaja. Pada waktu itu wilayah Bila hanya
merupakan sebuah dusun yang dipimpin oleh kepala dusun yang pertama yaitu Kapala Sanusi, kepala dusun kedua yaitu Kapala Arase'.
Pembentukan persiapan Desa Bila sebagai pemekaran dari
Desa Ulaweng Riaja dimulai pada tahun 1992 bersamaan dengan pemekaran Kecamatan
Ulaweng menjadi dua kecamatan yaitu 1) Kecamatan Amali , 2) Kecamatan Ulaweng.
Setelah itu, Desa Bila terbentuk secara resmi sebagai sebuah desa otonom yaitu
pada tahun 1994. Kepala desa pertama di Desa Bila adalah Agustang Parakkasi (1996-2009). Pada masa pemerintahannya di Desa
Bila, wilayah ini dibagi menjadi dua dusun yaitu 1) Dusun Bila, dan 2) Dusun
Cenranae. Dusun Bila dipimpin oleh seorang kepala dusun yaitu Muhammad Aras. Demikian pula,Dusun
Cenranae dipimpin oleh seorang kepala dusun bernama Muhammad Nasir.
Kepala Desa kedua adalah Salma Agustang (2009-2016). Pada masa ini, struktur administrasi
pemerintahan dan pembangunan di Desa
Bila mengalami kemajuan yang cukup signifikan: seperti pembangunan kantor desa,
perintisan jalan setapak di lingkungan permukiman warga, dan jalan tani di
sekitar kebun-kebun para petani. Peningkatan kesejahteraan hidup warga
masyarakat menjadi program kerja utama pada masa ini.
4.2 Kondisi Umum Desa
a. Letak dan Luas Wilayah
Desa Bila merupakan salah satu dari 14 desa dan
1 kelurahan di Wilayah Kecamatan
Amali Kabupaten Bone. Desa Bila
mempunyai luas wilayah seluas ± 6, 80 KM² Hektar. Desa Bila terbagi menjadi 2 dusun
yaitu Dusun Bila dan Dusun Cenranae.
b. Iklim
Iklim Desa Bila, sebagaimana
desa-desa lain di wilayah Indonesia
mempunyai Iklim Kemarau dan Penghujan.
Hal tersebut, memunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di
Desa Bila Kecamatan Amali Kabupaten Bone.
2)
Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk
a. Jumlah Penduduk
Desa Bila mempunyai Jumlah Penduduk sebesar 858 jiwa orang yang terdiri
atas laki-laki sebesar 409 jiwa orang dan perempuan sebesar 449 jiwa orang. Jumlah penduduk tersebut terdiri atas 223 Kepala Keluarga yang tersebar
dalam dua dusun yaitu dengan perincian sebagaimana tabel 1 di bawah ini.
TABEL 1
JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN JENIS KELAMIN
|
No |
Dusun |
Jumlah Penduduk KK Miskin Prosentase |
||
|
Laki-laki |
Perempuan |
Total |
||
|
Bila |
237 |
263 |
500 |
|
|
2 |
Cenranae |
172 |
186 |
358 |
|
Jumlah |
409 |
449 |
858 |
|
TABEL 2
JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN
KK
|
Dusun |
Kepala Keluarga |
|
1.
Bila |
129 |
|
2.
Cenranae |
94 |
|
Total |
223 |
b. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan masayarakat Desa Bila dapat dilihat pada tabel berikut
TABEL 3
TINGKAT
PENDIDIKAN
|
Dusun |
SD/ Sederajat |
SMP/Sederajat |
SMA/Sederajat |
||||||
|
Jenis Kelamin |
Jenis Kelamin |
Jenis Kelamin |
|||||||
|
Laki-laki |
Perempuan |
Total |
Laki-laki |
Perempuan |
Total |
Laki-laki |
Perempuan |
Total |
|
|
1.
Bila |
83 |
89 |
172 |
31 |
40 |
71 |
19 |
11 |
30 |
|
2.
Cenranae |
55 |
63 |
118 |
17 |
12 |
29 |
9 |
3 |
12 |
|
Total |
138 |
152 |
290 |
48 |
52 |
100 |
28 |
14 |
42 |
c .
Pencaharian
Dusun Bila di Desa Bila sebagian
besar penduduknya bermata pencaharian
sebagai petani, disusul wiraswasta, konstruksi dan sector
jasa lainnya. Sedangkan yang tidak memiliki pekerjaan lebih besar jumlahnya
daripada yang sedang bekerja. Adapun di Dusun Cenranae juga sebagian
penduduknya bermata pencaharian petani disusul jasa-jasa, wiraswasta dan
transportasi. Pada umumnya di Desa Bila lebih besar penduduknya yang tidak
bekerja. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL 4
MATA PENCAHARIAN
|
Dusun |
Petani |
Konstruksi |
Wiraswasta |
Transportasi |
Jasa-jasa |
Tidak Bekerja |
Total |
|
1. Bila |
156 |
3 |
21 |
- |
2 |
244 |
426 |
|
2. Cenranae |
98 |
- |
5 |
4 |
13 |
173 |
293 |
|
Total |
254 |
3 |
26 |
4 |
15 |
417 |
719 |
3)
Sarana dan
Prasarana Desa
Kondisi sarana
dan prasarana umum Desa Bila secara garis
besar adalah sebagai berikut :
TABEL 5
PRASARANA DESA
|
No |
Jenis Sarana |
Berdasarkan Dusun |
Jumlah |
|
|
Bila |
Cenranae |
|||
|
1 |
Kantor Desa |
- |
1 |
|
|
2 |
Posyandu |
- |
1 |
|
|
3 |
Pustu |
1 |
- |
|
|
4 |
Polindes |
1 |
- |
|
|
5 |
Poskesdes |
- |
- |
|
|
6 |
Sekolah Dasar |
- |
1 |
|
|
7 |
SMP |
- |
1 |
|
|
|
TK |
- |
1 |
|
|
|
SMA |
- |
- |
|
|
8 |
Mesjid |
1 |
1 |
|
|
9 |
Mushallah |
- |
- |
|
|
10 |
Lapangan Olahraga |
1 |
1 |
|
|
11 |
Gedung Olahraga |
- |
- |
|
|
12 |
Gedung TPA |
- |
- |
|
|
13 |
Cagar Budaya |
- |
- |
|
|
Jumlah |
4 |
7 |
- |
|
4)
Kondisi Pemerintahan Desa
Nama Desa : Bila
Kota/Kab : Bone
Propinsi : Sulawesi Selatan
Alamat Kantor : Pekkaê, Dusun Cenranaê.
Luas Wilayah : ± 6, 80 KM²
Batas Wilayah
·
Utara : Desa
Waemputtangnge
·
Selatan : Desa
Amali Riattang
·
Barat : Desa Ulaweng Riaja
·
Timur : Desa Lili Riattang
Jumlah Dusun /Lingkungan :
2 Dusun
Jumlah RK : 2
Jumlah RT : 4
Jumlah Penduduk : 858 Jiwa
Laki-Laki : 408 Jiwa
Perempuan : 449
Jiwa
Kepala Keluarga : 223 KK


