Desa Lili Riattang Selayang Pandang:
"Kisahmoe Tempo Doeloe" (versi 1)
Oleh: M.Dalyan Tahir
Dosen FIB Universitas Hasanuddin, Makassar
Desa Lili Riattang berjarak sekitar149 km dari
Ujung Pandang (Makassar) ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Letaknya, berada
pada pada posisi 11 km dari jalan poros Ujung Pandang – Watampone ibu kota
Kab. Bone. Desa ini, terletak di wilayah Barat Kab. Bone, dengan
jarak kurang lebih 30 km dari Taccipi ibu kota Kec. Ulaweng atau
46 km dari Kota Watampone.
Salo Pusae sebuah legenda masa lalu merupakan titik awal lahirnya peradaban kepemimpinan anang atau kawerang, yang menjadi cikal bakal Wanua Calagenreng. Dahulu Desa Lili Riattang bernama Wanua Calagenréng.
Kepala pemerintahannya bergelar anreguru (sebuah jabatan teknis yang mengepalai satu urusan khusus di istana Kerajaan Bone), statusnya
setingkat dengan distrik atau kecamatan. Hingga saat ini, diperkirakan telah
terjadi 21 kali pergantian dan penggantian kepala pemerintahan. Rinciannya
yaitu 11 kali periode anreguru, 3 kali
periode kepala wanua (wilayah) dan 7 kali pula periode kepala
desa, termasuk di dalamnya Pjs. kepala desa.
Anréguru pertama ialah La Camma' dengan
gelar Anréguru Calagenréng. Anréguru Pakkinnyarang (komandan
pasukan berkuda), dan Anréguru Pallawarukka (pencegah konflik). Di
samping sebagai Anréguru Calak Benréng--disebut demikian-- karena dilantik
untuk berkuasa dan memerintah di sebelah kiri-kanan kerajaan-kerajaan kecil
(palili) di Bone bagian barat oleh Raja Bone ke-16 La Patau Matanna Tikka
sekitar tahun 1696-1714. Anreguru XI Calagenreng ialah La Baba' peletak dasar-dasar peralihan pemerintahan ke kapala wanua di Calagenreng. Pelaksana harian (Plh) anreguru (XII) ialah La Baco, masa perang gerilya sampai dengan masa menjelang zaman kemerdekaan
selama kurang lebih 8 bulan.
Pada masa berakhirnya masa pemerintahan La Baba', memasuki masa awal pemintahan La Baco, terjadi penciutan sebagian
wilayah kekuasaan Calagenréng oleh Ulaweng dan Amali (Petta
Tekko) maka La Baco menghadap kepada Andi
Mappanyukki Raja Bone ke-32 untuk
meminta pertimbangan supaya Botto Penno
tidak beralih ke bawah kekuasaan Arung Amali. La Baco tidak setuju atas kebijakan sepihak Andi Panggeleng Petta Tekko mengambil Botto Penno jawang sepe'. Akhirnya, La Baco menantu Anréguru La
Duke’ menyampaikan kepada Puatta (Raja Boné ke-32) untuk berhenti dari jabatannya
sebagai pelaksana harian Anréguru di Calagenréng, jika wilayah Calagenreng tidak diutuhkan kembali seperti pada masa pemerintahan Anreguru La Duke' .
Sejak periode itu, Calagenreng memasuki masa transisi kepemimpinan dari periode anreguru
ke periode Kapala Wanua. Pemerintahan Anreguru berganti nama menjadi sistem Kapala Wanua (wilayah) di Calagenréng. Perubahan sistem tersebut, berkonsekwensi pula pada penunjukan kepala pemerintahan di Calagenreng, tidak lagi berdasarkan atas kesamaan
asal-usul keturunan (abbatireng) dari Anreguru
Calagenréng. Berselang beberapa waktu lamanya, pada saat itu disepakatilah Andi Paddenggeng Petta Tana oleh Anreguru La Baba' sebagai kepala wanua pertama di Calagenréng dengan menyepakati kontrak politik kepada anreguru. Salah satu isi pasalnya adalah pada masa transisi ini, kapala wanua harus didampingi oleh wija anreguru, yaitu Barike' Jaga selaku juru tulisi'. Konon kabarnya, pilihan ini ditempuh oleh La Baba' dengan pertimbangan karena Puang Pale' masih memliki hubungan famili dengan Kindong istri La Duke’ dari pihak ibu Andi
Paddengngeng, yaitu Puang Pale’ arung dari Toddang Baruttung di Toddang Citta Soppeng. Kebijakan Anreguru La Baba' tersebut, mendapat persetujuan dari para tokoh masyarakat, yaitu (1) Baco Kaci’ (2)Haji
Massére’, (3) Haji Koaseng, (4) Sume’ dan
beberapa tokoh masyarakat lainnya.
Setelah tiga kali diadakan pergantian kapala
wanua (Kapala Wanua ke-2 adalah Nire’, Kapala
Wanua ke-3 adalah Sirajuddin Daeng
Patangnga). Sejak itu, pada tahun 1969 Wanua Calagenréng berubah status pemerintahannya menjadi
sebuah desa gaya baru dengan nama Desa Lili Riattang, yang dipimpin oleh
seorang kepala desa. Desa Lili Riattang pada saat itu, berada di bawah koordinasi kepala
wilayah pemerintahan Kecamatan Ulaweng. Sebelumnya, yakni pada periode
anreguru, Calagenreng berdiri sejajar dengan Suléwatang Ulaweng (Arung Ulaweng)
yang bertanggtmg jawab langsung kepada Mangkau-é ri Bone (Darwis, 1990).
Kepala desa yang pertama ialah A. Muh.
Rapy Petta Nippi. Seorang kepala desa legendaris cucu H. Andi Takka Petta Timusu. Masa pemerintahannya berlangsung kurang-lebih 22
tahun, dan baru pada tanggal 6 Juli 1990 masa jabatannya berakhir. Pada masa itu, beliau diganti oleh salah seorang staf administrasi pemerintahan Kecamatan Ulaweng. Dalam hal ini, Bupati Daerah Tingkat II Bone menunjuk Muh. Saleh Rauf, satu di antara 40 penjabat
kepala desa (Kades) sementara di seluruh Kab. Bone. Setelah dijabat
kurang-lebih satu tahun dan mempersiapkan pemilihan desa definitif; maka terpilih A. Asri Sese Petta Maro selaku kades definitif. Kepala desa berikutnya
adalah A. Ahmad Petta Pata, Andi Cawe' Petta Lolo, Andi Sukmawati, sampai
dengan sekarang.
Referensi:
1. Ali, Andi Muhammad. 1986. Bone Selayang Pandang.
2. Darwis, Muhammad. 1990. Profil Masyarakat Desa di Sulawesi Selatan.
Ujung Pandang: LP Unhas.
3. Tahir, M. Dalyan. 1992. Nilai-Nilai Historis dalam Legenda Nama Tempat
di Desa Lili Riattang Kecamatan Ulaweng Kabupaten Bone.
Ujung Pandang: LP Unhas.
*Uraian lebih lengkap dapat
dibaca pada artikel “Pau-paunna Calagenréng: Lintasan Tradisi dan Sejarah Lisan Tana Bone”
.......................................................................................................................................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar