Senin, 10 Juni 2019


 Desa Lili Riattang Selayang Pandang:
"Kisahmoe Tempo Doeloe" (versi 1)

Oleh: M.Dalyan Tahir
Dosen FIB Universitas Hasanuddin, Makassar

Desa Lili Riattang berjarak sekitar149 km dari Ujung Pandang (Makassar) ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Letaknya, berada pada pada posisi 11 km dari jalan poros Ujung Pandang – Watampone ibu kota Kab. Bone. Desa ini, terletak di wilayah Barat Kab. Bone, dengan jarak  kurang lebih 30 km dari Taccipi ibu kota Kec. Ulaweng atau 46 km dari Kota Watampone.
Salo Pusae sebuah legenda masa lalu merupakan titik awal lahirnya  peradaban kepemimpinan anang atau kawerang, yang menjadi cikal bakal Wanua Calagenreng. Dahulu Desa Lili Riattang bernama Wanua Calagenréng. Kepala pemerintahannya bergelar anreguru (sebuah jabatan teknis yang mengepalai satu urusan khusus di istana Kerajaan Bone), statusnya setingkat dengan distrik atau kecamatan. Hingga saat ini, diperkirakan telah terjadi 21 kali pergantian dan penggantian kepala pemerintahan. Rinciannya yaitu 11 kali periode anreguru,  3 kali periode kepala wanua (wilayah) dan 7 kali pula periode kepala desa, termasuk di dalamnya Pjs. kepala desa.
Anréguru pertama ialah La Camma' dengan gelar Anréguru Calagenréng. Anréguru Pakkinnyarang (komandan pasukan berkuda), dan Anréguru Pallawarukka (pencegah konflik). Di samping sebagai Anréguru Calak Benréng--disebut demikian-- karena dilantik untuk berkuasa dan memerintah di sebelah kiri-kanan kerajaan-kerajaan kecil (palili) di Bone bagian barat oleh Raja Bone ke-16 La Patau Matanna Tikka sekitar tahun 1696-1714. Anreguru XI Calagenreng ialah La Baba' peletak dasar-dasar peralihan pemerintahan ke kapala wanua di Calagenreng. Pelaksana harian (Plh) anreguru (XII)  ialah La Baco,  masa perang gerilya sampai dengan masa menjelang zaman kemerdekaan selama kurang lebih 8 bulan. 
Pada masa berakhirnya masa pemerintahan La Baba', memasuki masa awal pemintahan La Baco, terjadi penciutan sebagian wilayah kekuasaan Calagenréng oleh Ulaweng dan Amali (Petta Tekko) maka La Baco menghadap kepada Andi Mappanyukki Raja Bone ke-32 untuk meminta pertimbangan supaya Botto Penno tidak beralih ke bawah kekuasaan Arung Amali. La Baco tidak setuju atas kebijakan  sepihak Andi Panggeleng Petta Tekko mengambil Botto Penno jawang sepe'. Akhirnya, La Baco menantu Anréguru La Duke’ menyampaikan kepada Puatta (Raja Boné ke-32) untuk berhenti dari jabatannya sebagai pelaksana harian Anréguru di Calagenréng, jika wilayah Calagenreng tidak diutuhkan kembali seperti pada masa pemerintahan Anreguru La Duke' .
Sejak periode itu,  Calagenreng memasuki masa transisi kepemimpinan dari periode anreguru ke periode Kapala Wanua. Pemerintahan Anreguru berganti nama menjadi sistem Kapala Wanua (wilayah) di Calagenréng. Perubahan sistem tersebut,  berkonsekwensi pula pada penunjukan  kepala pemerintahan di Calagenreng, tidak lagi berdasarkan atas kesamaan asal-usul keturunan (abbatireng) dari Anreguru Calagenréng. Berselang beberapa waktu lamanya, pada saat itu disepakatilah Andi Paddenggeng Petta Tana oleh Anreguru La Baba' sebagai kepala wanua pertama di Calagenréng dengan menyepakati kontrak politik kepada anreguru. Salah satu isi pasalnya adalah pada masa transisi ini, kapala wanua harus didampingi oleh wija anreguru, yaitu Barike' Jaga selaku juru tulisi'. Konon kabarnya, pilihan  ini ditempuh oleh La Baba' dengan pertimbangan karena Puang Pale' masih memliki hubungan famili dengan Kindong istri La Duke’ dari pihak ibu Andi Paddengngeng, yaitu Puang Pale’ arung dari Toddang Baruttung di Toddang Citta Soppeng.   Kebijakan Anreguru La Baba' tersebut, mendapat persetujuan dari  para tokoh masyarakat, yaitu (1) Baco Kaci’ (2)Haji Massére’, (3) Haji Koaseng, (4) Sume’ dan beberapa tokoh masyarakat lainnya. 
Setelah tiga kali diadakan pergantian kapala wanua (Kapala Wanua ke-2 adalah Nire’, Kapala Wanua ke-3 adalah Sirajuddin Daeng Patangnga). Sejak itu, pada tahun 1969 Wanua Calagenréng berubah status pemerintahannya  menjadi sebuah desa gaya baru  dengan nama Desa Lili Riattang, yang dipimpin oleh seorang kepala desa. Desa Lili Riattang pada saat itu,  berada di bawah koordinasi kepala wilayah pemerintahan Kecamatan Ulaweng. Sebelumnya, yakni pada periode anreguru, Calagenreng berdiri sejajar dengan Suléwatang Ulaweng (Arung Ulaweng) yang bertanggtmg jawab langsung kepada Mangkau-é ri Bone (Darwis,  1990).
Kepala desa yang pertama ialah A. Muh. Rapy Petta Nippi. Seorang kepala desa legendaris cucu H. Andi Takka Petta Timusu. Masa pemerintahannya berlangsung kurang-lebih 22 tahun, dan baru pada tanggal 6 Juli 1990 masa jabatannya berakhir. Pada masa itu, beliau diganti oleh salah seorang staf administrasi pemerintahan Kecamatan Ulaweng. Dalam hal ini, Bupati Daerah Tingkat II Bone menunjuk Muh. Saleh Rauf, satu di antara 40 penjabat kepala desa (Kades) sementara di seluruh Kab. Bone. Setelah dijabat kurang-lebih satu tahun dan mempersiapkan pemilihan desa definitif; maka terpilih  A. Asri Sese Petta Maro selaku kades definitif. Kepala desa berikutnya adalah A. Ahmad Petta Pata, Andi Cawe' Petta Lolo, Andi Sukmawati,  sampai dengan sekarang.

Referensi:
1. Ali, Andi Muhammad. 1986. Bone Selayang Pandang.
2. Darwis, Muhammad. 1990. Profil Masyarakat Desa di Sulawesi Selatan. 
    Ujung Pandang: LP Unhas.
3. Tahir, M. Dalyan. 1992.  Nilai-Nilai Historis dalam Legenda Nama Tempat 
    di Desa Lili  Riattang Kecamatan Ulaweng Kabupaten Bone. 
    Ujung Pandang: LP Unhas.
         

*Uraian lebih lengkap dapat dibaca pada artikel “Pau-paunna Calagenréng: Lintasan Tradisi dan Sejarah Lisan Tana Bone”
.......................................................................................................................................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar