Rabu, 31 Maret 2021

Passalenna Dulung Ajangngaleq

 PASSALENNA DULUNG AJANGALEQ

La Passenggeng sebuah nama yang tidak akrab lagi di telinga kita sekarang. Konon kabarnya, La Passenggeng adalah seorang panglima perang (dulung) di Ajangngaleq yang menentang dan melawan kompeni Belanda sampai pada masa Rumpaqna Bone (1905-1906). Bahkan, dalam beberapa cerita lisan disebutkan bahawa jauh sebelum peristiwa Rumpaqna Bone,  yaitu pada masa Agresi Belanda I & 2 La Passenggeng bersama pasukannya tidak perna koperatif dengan Kolonial Belanda. Perang terakhir yang dipimpin La Passenggeng di situlah ia meninggal dan jasadnya tidak ditemukan.

Seseorang yang mengaku masih memiliki hubungan silsilah dengan La Passenggeng, menjelaskan bahwa La Passenggeng memiliki 10 istri.  Setiap istrinya hanya memiliki 1 anak. Dari keturunan inilah tersebar di daerah Laponrong, Lakuang, Pongka dan daerah-daerah sekitarnya. Wilayah yang dipimpin La Passenggeng pada masa itu adalah Ajangngaleq, Sailong, Timurung, dan sebagian Amali.

Anak La Passenggeng dari istrinya yang terakhir, memperistri anak Arung Sailong. Hasil perkawinan ini lahirlah La Temma. La Temma memiliki 2 anak, yaitu La Siduppa dan satu lagi anak perempuan. La Temma bersama Arung Sailong Petta Nompoq memimpin dan ikut berperang pada masa Rumpaqna Bone. Petta Nompoq gugur dalam perang ini melawan pasukan Belanda (Sumber:  Ayub Khan, 2021).

Demikian info sekilas tentang Dulung Ajangngaleq. Jika ada salah kata dan informasi mohon dimaafkan. Tulisan dalam blog ini akan dilengkapi sebagai upaya pengenalan sejarah local pada generasi muda. Sekiranya ada informasi yang berkaitan bisa mengirim ke email: m.dalyan1964@gmail.com