PASSALENNA DULUNG AJANGALEQ
La Passenggeng
sebuah nama yang tidak akrab lagi di telinga kita sekarang. Konon kabarnya, La
Passenggeng adalah seorang panglima perang (dulung) di Ajangngaleq yang
menentang dan melawan kompeni Belanda sampai pada masa Rumpaqna Bone
(1905-1906). Bahkan, dalam beberapa cerita lisan disebutkan bahawa jauh sebelum
peristiwa Rumpaqna Bone, yaitu pada
masa Agresi Belanda I & 2 La Passenggeng
bersama pasukannya tidak perna koperatif dengan Kolonial Belanda. Perang
terakhir yang dipimpin La Passenggeng di situlah ia meninggal dan jasadnya
tidak ditemukan.
Seseorang yang mengaku masih memiliki hubungan silsilah
dengan La Passenggeng, menjelaskan bahwa La Passenggeng memiliki 10 istri. Setiap istrinya hanya memiliki 1 anak. Dari
keturunan inilah tersebar di daerah Laponrong, Lakuang, Pongka dan
daerah-daerah sekitarnya. Wilayah yang dipimpin La Passenggeng pada masa itu
adalah Ajangngaleq, Sailong, Timurung, dan sebagian Amali.
Anak La Passenggeng dari istrinya yang terakhir, memperistri
anak Arung Sailong. Hasil perkawinan
ini lahirlah La Temma. La Temma
memiliki 2 anak, yaitu La Siduppa
dan satu lagi anak perempuan. La Temma bersama Arung Sailong Petta Nompoq memimpin
dan ikut berperang pada masa Rumpaqna Bone. Petta Nompoq gugur
dalam perang ini melawan pasukan Belanda (Sumber: Ayub Khan, 2021).
Demikian info sekilas tentang Dulung Ajangngaleq. Jika ada salah kata dan informasi mohon
dimaafkan. Tulisan dalam blog ini akan dilengkapi sebagai upaya pengenalan
sejarah local pada generasi muda. Sekiranya ada informasi yang berkaitan bisa
mengirim ke email: m.dalyan1964@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar