Selasa, 19 Oktober 2021

SELAYANG PANDANG

DESA BENTENG TELLUE  

KECAMATAN AJANGALE KABUPATEN BONE 

Editor:

 Boby ALP. &  Hj. Adriani ALP. 




Kata  Pengantar 

Bismillahir Rahmanir Rahiem.

Buku Selayang Pandang Desa Benteng TelluE, Kecamatan Ajangale Kabupaten Daerah Tingkat II Bone, diterbitkan atas dasar harapan agar Desa Benteng Tellue lebih dapat dikenal melalui media penerbitan Buku Selayang Pandang ini.

Kami sadari, bahwa "Buku Selayang Pandang" ini masih jauh dari kesempurnaan dan di sana sini masih banya kekurangannya. Namun, kami masih tetap berharap mudah-mudahan buku ini dapt berfungsi sebagai sumber informasi dan dapat memberikan jawaban kepada setip orang yang belum dan ingin mengenal hakikat dan identitas sebenarnya Desa Benteng TelluE walaupun hanya secara sepintas dalam lintasan ingatan.

Untuk menemukan kesempurnaan Buku Selayang Pandang Desa Benteng TelluE ini, dengan segala rasa senang hati kami senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan, bahkan menantikan kritikan-kritikan dari manapun datangnya yang bersifat pembenahan. Kami yakin, bahwa Buku Selayang Pandang ini, bukan hanya satu kali saja akan mengalami penerbitan, tetapi Insya Allah akan terbit berkali-kali lagi pada hari-hari mendatang dan akan berkembang terus-menerus mengikuti situasi, kondisi, dan dinamika perkembangan Desa Benteng TelluE dari masa-ke masa, yang disinari oleh jiwa dan semangat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 

Untuk itu kepada semua pihak yang telah memberikan buah-buah pemikirannya, daya dan upayanya dalam rangka penyusun Buku Selayang Pandang ini, atas nama Pemerintah dan seluruh masyarakat Desa Benteng TelluE mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas selaga jasa-jasa dan sumbangsinya kepada kami dan semoga Tuhan Subehanahu Wataala memberkatinya.

 Pada akhirnya, dengan penuh rasa kerendahan hati, kami mempersembahkan BUKU SELAYANG PANDANG DESA BENTENG TELLUE ini, kepada Bapak Ketua dan Anggota Team Penilai Lomba Pembangunan Desa Tingkat Propinsi Sulawesi Selatan dengan iringan harapan dan doa. Semoga bermanfaat adanya.

Wassalam. Wabillahit Taufiq Walhidayah.

 

 

Tabba'E, 27 April 1984.

KEPALA DESA BENTENG TELLUE,

 

 

(ALIMUDDIN PAGE)


AFTAR ISI

               

 A.     SEJARAH SINGKAT DESA BENTENG TELLUE                                 HAL           

1.  Pendahuluan                                                                                   5

2.  Dasar Pengkajian sejarah                                                                 5

3.  Asal mula Desa Benteng TelluE                                                        9

4.  Asal mula Nama Laponrong                                                             10

5.  Asal mula Nama TabbaE                                                                  10

6.  Kepemimpinan La Manna                                                               12

7.  Masalah Kerajaan Amali                                                                  13

8.  TabbaE dan Laponrong ( Desa Benteng TelluE )

pisah dengan Amali                                                                         15

9.  Syarat Kepemimpinan Anreguru                                                     15

10. Susunan Anreguru di BottoE                                                            16

 

B.    PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN DESA BENTENG TELLUE       18

 

C.    BIDANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DESA                         19

 

- PENUTUP                                                                                   21

 

GAMBARAN UMUM DESA BENTENG TELLUE KECAMATAN AJANGALE

KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BONE 1983/1984

A.     SEJARAH SINGKAT DESA BENTENG TELLUE 

1.    PENDAHULUAN.

Mengungkap suatu sejarah tidak mudah, karena selain memerlukan keterangan-keterangan yang tepat dan benar (authentik), juga diperlukan suatu penelitian sejarah (catatan hidup) tersendiri yang merupakan bengkalai peninggalan sejarah (lontaraq) dari suatu daerah. Demikian pula halnya sejarah singkat Desa Benteng TelluE Kecamatan Ajangale. Penggalian sejarahnya, hanya dapat diungkap sekadar beberapa catatan rangkaian dari  sekelimut sejarah dan budaya daerah Bone yang ditunjang oleh keterangan2 lisan dari beberapa orang tua daerah yang sempat mengenal dekat sasaran dari suatu unsur penelitian.


2. DASAR PENGKAJIAN SEJARAH

Riwayat tentang penduduk asli Desa Benteng TelluE, berasal dari “BARINGENG” Kabupaten Daerah Tingkat II Soppeng. Sudah menjadi tradisi di suatu daerah, sangat erat hubungannya dengan sejarah daerah lain.

 

Konon kabarnya yang menjadi nenek moyang keturunan dari penduduk Desa Benteng TelluE ialah “La Manna” yang pada mulanya bermukim tetap di Baringeng ( Soppeng ).

 

La Manna dalam hubungannya dengan raja-raja di Soppeng sangat dekat, sehingga raja-raja di Baringeng mengangkat La Manna menjadi Indo Anang ( orang tua daerah). Keadaan ini berkisar pada abad ke XVII. La Manna dikalangan raja-raja di Baringeng dianggap sebagai sesepuh, bahkan dianggap sebagai penasehat dalam segala bentuk tindakan. Rupanya hubungan baik ini tidak berjalan lama, kerena adanya perbedaan pendapat antara La Manna dengan raja-raja di Baringeng. Perselisihan paham ini disebebkan oleh faktor etika dan tradisi yang dikehendaki oleh raja-raja di baringeng yang disanggah keras oleh La Manna. Dasar inilah yang menjadi pertentangan sehingga Baringeng berbuat sekehendak hatinya tanpa meminta pertimbangan lagi dari La Manna yang dianggap sebagai Indo – Anang ( orang tua daerah ). Kejadian inilah yang menyebabkan La Manna meninggalkan Baringeng dan bertekad untuk hijrah kedaerah lain.

 

Setelah dipertimbangkan secara matang dan mendasar, La Manna dengan pendukung dan penganutnya ± 40 orang kepala keluarga yang setia kepadanya meninggalkan Baringeng menuju daerah tempat pemukiman baru.

 

Sebagai musafir yang sedang dalam perjalanan, La Manna bersama rombongan pengikutnya menuju kearah Timur dan di suatu tempat yang agak teduh mereka singgah sebentar mengasoh menghilangkan lelah. Itulah sebabnya tempat persinggahan itu dinamai Leppangeng (Bahasa Bugis: artinya tempat singgah) dan dapat dibuktikan sampai sekarang kampung tersebut tetap bernama Leppangeng yang letaknya tidak jauh dari Desa Timurung.

 

Selanjutnya La Manna bersama rombongan melanjutkan perjalanan dan tiba pada suatu daerah yang agak ketinggian, La Manna bersama rombongan singgah pada tanah ketinggian tersebut, sehingga tempat tersebut oleh pengikutnya La Manna dinamakan Botto-Botto (bahasa Bugis: Botto-Botto artinya tanah ketinggian). Dan BottoE inilah yang menjadi nama asli dari ibu kota Desa Benteng TelluE yang belakangan ini lebih dikena dengan nama TabbaE.

 

Di BottoE inilah La Manna bersama rombongan mengadakan suatu upacara tradisi yang merupakan pesta wasilaturrahmi kekeluargaan sekaligus merupakan doa keselamatan (bahasa Bugis: Doa sipulung) atas tibanya bersama rombongan di BottoE sebagai tempat pemukiman yang baru.

 

Upacara tradisi pesta kesyukuran tersebut yang ditunjang oleh beberapa sarana kesenian seperti gendang bulo, kecapi, anak beccing dsb. Yang dipadukan menjadi satu komponen musik yang melahirkan suatu nada dan irama lagu yang sangat serasih dan menawan hati dengan nilai budaya yang sangat tinggi artinya dan berhasil menarik perhatian bagi setiap orang yang mendengarnya.

 

Sesaat berlangsungnya acara upacara doa syukur tersebut tiba2 langgarlah Arung Amali bersama rombongan dalam perjalanan menuju Timurung dalam rangka sesuatu rurusan Pemerintahan Kerajaan.

 

Sekembalinya Arung Amali dari Timurung, Arung Amali dan rombongan masih melihat La Manna bersama anggotanya mengadakan acara kesenian dengan mesrah, sehingga menurut tanggapan Arung Amali, bahwa kehadiran La Manna ditempat tersebut, merupakan suatu kegaiban dan dianggapnya sebagai “TOMANURUNG” di BottoE.

 

Selanjutnya Arung Amali mengirim kurir dari Taretta yang dinamakan Buto (bahasa Bugis: artinya Juru bicara Istana) untuk menemui La Manna di BottoE yang dianggapnya sebagai Tomanurung. Hasil pembicaraan tersebut, Arung Amali melalui utusan Butonya menanyakan kepada La Manna, tentang apa maksud tujuannya berada di BottoE, kemana tujuannya dan dimana arah perjalanannya. Dalam pada itu La Manna memberikan pernyataan kepada Arung Amali, bahwa kehadirannya di BottoE tidak lain untuk mencari standar hidup sebagai daerah pemukiman yang baru dan mereka berhijrah dari daerah Baringeng (Soppeng), karena sesuatu hal yang tidak sependapat dengan pihak penguasa di Baringeng.

 

Selanjutnya Arung Amali mengajak tawaran kepada La Manna bersama rombongan untuk tinggal menetap di BottoE sebagai penghuni baru. Tawaran Arung Amali tersebut diterima baik oleh La Manna dengan mengajukan tiga syarat permintaan yang berbunyi sebagai berikut:

 

1.     Bahasa Bugis: -  MALLEKKUKA TENRI PAKKEDDE,

 -     MAKKAJA TENRI ANGKAH,

 -     LOGE KU TENRI AMPIRI;

 

Artinya dalam bahasa Indonesia: Diwaktu tidurku, tak seorangpun membangunkan, langkah gerakku tak seorangpun yang bisa membatasi, dan keadaanku tak seorangpun yang bisa mengawasi.

 

2.     Bahasa Bugis: -  MELLAUKA TANAH ANGKONARENG,

 -     KUMANA TUSENG RIWIJA PADDIMURI,

 -     AKKINANRENNA IKKENG SILISE LANGKANA.

 

Artinya dalam bahasa Indonesia: Saya mengharapkan tanah penghidupan, guna kuwariskan kepada anak cucu keturunanku, demi keseimbangan hidup sehari seisi rumah dan sekeluarga.

 

3.     Bahasa Bugis: -  NATTAMPA SEKE TENRISANNAE,

 -     NATASSUNREWA ARAJANNA AMALI,

 -     ASSAILEKO RIPAKKANNA BOTTOE

 -     NASARA LALENG NATOSIALLABUANG.

 

Artinya dalam bahasa Indonesia: Saat datangnya panggilan mara bahaya, Kerajaan Amali menghadapi ancaman musuh, berpalinglah kepada Pasukan pilihan La Manna di BottoE, serahkan jalan ke depan bertarung di medan frontal.


Ketiga usul La Manna ini diterima baik oleh Arung Amali dan usul ini diterima sebagai hukum perjanjian dan sejak itu La Manna dan keturunannya di BottoE berada dibawah panji Arung Amali yang berkedudukan di Taretta.

 

Untuk mengetahui hakikat ketiga usul permintaan La Manna kepada Arung Amali, dapat dirumuskan sebagai berikut:

I.      Permintaan tentang hak asasi yang mutlak untuk berdaulat penuh keluar dan kedalam, namun pada lahirnya tetap di bawah panji kekuasaan Arung Amali, tetapi dari segi langkah dan gerak kebebasannya pada hakikatnya meminta status otonom.

 

II.   Meminta penentuan kawasan tetap, lengkap dengan perbatasan untuk kehidupan anak cucu keturunan bagi La Manna.

 

III. Jaminan persahabatan senasib sepenanggungan antara Amali dan BottoE, sekarang TabbaE Ibu Kota Desa Benteng TelluE, sehingga serangan musuh terhadap Amali merupakan pula serangan bagi BottoE, karena BottoE sudah merupakan bahagian dari Kerajaan Amali.

 

3.    ASAL MULA NAMA BENTENG TELLUE

 

Sebagaimana halnya kerajaan2 lain di Indonesia pada umumnya dan di Sulawesi Selatan pada khususnya, antara kerajaan2 kecil sering terjadi perselisihan paham yang membawa dampak ketegangan. Pertikaian kedalam antara Kerajaan2 kecil yang saling berdekatan sering terjadi, bai dari segi perbatasan daerah, perbedaan tradisi masyarakat dll. Permasalahan sering menimbulkan persaingan yang diakhiri dengan perang saudara.

 

Dalam proses perjalanan sejarah tak dapat dihindari, sehingga timbul pertentangan antara Amali dengan Timurung, sehingga kedua belah pihak saling bersiap dalam segala bentuk kemungkinan. Sebagai kesiap-siagaan terhadap serangan, maka baik Amali maupun Timurung masing2 membuat Benteng Pertahanan digaris perbatasan. Pihak Timurung membangun Benteng pertahanan yang ampuh dan kuat dan diberi nama Benteng TabbampangE, artinya kubuh pertahanan yang melintang. Sedangkan pihak Arung Amali mendirikan tiga buah benteng pertahanan diseputar kawasan BottoE. Ketiga Benteng pertahanan ini dibangun dan konstruksinya disesuaikan dengan renstra (rencana strategi) pertahanan yang menguntungkan bagi pertahanan dan penyerangan dimana bentang pertama posisinya menghadapi Telle, benteng kedua posisinya menghadap penuh kearah Timurung, sedangkan benteng yang ketiga dipersiapkan sebagai kubuh pertahanan terakhir. Ketiga benteng yang melatarbelakangi sejarah penjelmaan Desa Gaya Baru Tahun 1964 sehingga lahirlah istilah “Desa Benteng TelluE” dengan ibu-kotanya “Botto” yang belakangan ini lebih dikenal dengan nama “TABBAE”.

 

Dengan munculnya nama “TabbaE” yang menggantikan ketenaran BottoE akan dijelaskan pada uraian2 selanjutnya.

 

Desa Benteng TelluE pada hakikatnya terdiri dari dua buah kampung yaitu BottoE dan Laponrong. Untuk mengetahui sejarah mula munculnya nama atau istilah kampung Laponrong, kita harus kembali kepasa sejarah La Manna sebagai tokoh pertama penghuni kampung BottoE.

 

4.    ASAL MULA NAMA LAPONRONG

 

La Manna mempunyai seorang sahabat yang merupakan penasihat pribadi. Sesudah santap siang di BottoE, secara kebetulan sahabat La Manna tersebut menelan tulang ikan dan menghadang dikerongkongannya sehingga menderita kesakitan yang tak terhingga dan menyebabkan kematiannya. Sahabat La Manna tersebut bernama La Palesangi yaitu salah seorang teman seperantauan La Manna dari Baringeng Kaupaten Soppeng. La Palesangi, demikianlah nama sahabat akrab La Manna tersebut, karena dia lahir ketika matahari condong ke Barat ( bahasa Bugis, Lesang artinya condong ).

 

Sesaat La Palesangi menghadapi zakaratul maut karena pengaruh kesakitan yang dideritanya, La Palesangi meronta-ronta dan kedua belah tangan dan kakinya disentak-sentak jatuh bangun menghempaskan diri ketanah dan akhirnya menemui ajalnya. Jenasah La Palesang dikuburkan ditempat itu juga, ditempat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam keadaan sangat ngeri “Maponrang-ponrang” artinya meronta-ronta. Itulah sebabnya maka diseputar tempat itu para sahabat La Palesangi menamai Laponrong. Dan dari proses perjalanan dari waktu kewaktu dan tahun demi tahun akhirnya tempat itu mengembang menjadi suatu perkampungan penduduk yang besar dan itulah sekarang jadi Dusun Laponrong, salah satu Dusun di Desa Benteng TelluE.

 

5.    ASAL MULA NAMA TABBAE

 

    Setelah Lottoe dan Laponrong secara formil berada dalam kekuasaan wilayah hukum Arung Amali, maka status Pemerintahan di Bottoe dibagi - gelaran “Anre-Guru” yang statusnya sama dengan kedudukan Kepala Kampung. Jadi La Manna, ialah Anre-Guru pertama di Bottoe dan melekasanakan tugas pemerintahan sebagai bahagian dari wilayah takluk Kerajaan Arung Amali yang berkedudukan di Taretta.

 

Karena Baringeng dengan BottoE, persis letaknya pada posisi perbatasan Soppeng dengan Amali, sehingga baik penduduk Baringeng maupun BottoE sering timbul insiden perbatasan, terutama dalam    masalah perburuan rusa dihutan-hutan perbatasan. Karena penduduk Baringeng sering kali melakukan perburuan rusa dikawasan hutan BottoE tanpa izin dari pihak penguasa di BottoE, sehingga timbullah ketegangan antara Arung Amali dengan pihak Penguasa di Baringeng.

 

Karena dianggap salah satu perkosaan hak, Arung Amali mengeluarkan suatu ultimatum yang sifatnya peringatan terakhir kepada pihak penguasa di Baringeng, agar Baringeng menghormati wilayah territorial Kerajaan Amali di BottoE tentang seringnya terjadi pelanggaran wilayah perbatasan yang dilakukan oleh penduduk Baringeng. Dan sebagai sangsi adanya ultimatum tersebut, Arung Amali memerintahkan kepada Anreguru BottoE agar mengadakan penjagaan ketat dan konsolidasi kekuatan dikawasan Selatan hutan BoottoE. Dan setelah perintah ini diterima oleh La Manna, maka La Manna mengadakan rapat khusus dengan para pemuka masyarakatnya yang diakhiri dengan suatu perintah penegasan, bahwa barangsiapa yang berani melenggar wilayah perbatasan kita tanpa syarat, “SITABBA' BESSIKO” (artinya baku hantam saja dengan tombak) dan jangan mundur. Bahasa Bugis: “Sangadi Maretto Tellu Lisenna CenranaE Muaddampeng soro” (maksudnya dalam bahasa Indonesia jangan mundur setapakpun kecuali kalau senjatamu sudah patah tiga). Demikian antara lain kata2 penegasan La Manna kepada pasukannya yang berjaga-jaga pada posisi kawasan Selatan hutan BottoE.

 

Namun, tidak jelas dalam sejarah, bahwa penduduk BottoE dengan Baringeng pernah terjadi pertumpahan darah akibat pelanggaran daerah perbatasan, tetapi barangkali justru faktor ketegasan perintah La Manna ini kepada pasukannya dengan istilah “sitabba bessi” sehingga diseputar tempat penjagaan pasukan La Manna ini disebut “TABBAE” dan dalam proses perkembangannya, lama-kelamaan nama TabbaE lebih populer dan lebih tenar dari pada BottoE, namun pada hakikatnya “TabbaE” yang kita kenal sekarang sudah dinobatkan menjadi Ibu Kota Benteng telluE, tidak lain perwujudan dari pada BottoE yang merupakan nama asli kampung tersebut.

 

6.    KEPEMIMPINAN LA MANNA

 

Kepemimpinan La Manna sangat makmur, rakyat BottoE sangat stabil, tentram dan aman. La Manna sering langsung menghadap Istana Raja Bone dengan membawa upeti persembahan, meskipun kedudukan La Manna pada Pemerintahan Arung Amali digelar Anreguru yang setingkat dengan Kepala Kampung BottoE, namun Raja Bone We Patimah Banri MATINROE ri Bolamparenna memberikan julukan kepada La Manna “LATEMMANINI”. La Manna sebagai pemula Kampung BottoE, mempunyai unsur2 kelebihan sebagai berikut:

a.     La Manna cukup disegani oleh kawan dan lawan, karena selain ia sebagai pemberani juga ia dikenal sebagai penembak mahir yang mampu membidikkan senapannya dengan penglihatan kekuatan bathin, pengendalian peluru sasarannya tergantung dari pada kehendaknya.

b. La Manna mempunyai Bendera Daerah yang tersendiri (Arajang – Manurung ) yaitu bendera pusaka yang tergantung dipohon kayu besar di BottoE, dengan warna dasar hijau-tua dengan garis melintang putih, entah dari mana datangnya secara awal, karena pertama kalinya dikenal, dijumpai berkibar dipuncak pohon kayu besar. Bendera tersebut oleh keluarga La Manna dan pengikutnya menganggap “Bendera Arajang Manurung” sama halnya Bendera “BATE” bagi Kerajaan Bone. Hanya sayangnya Bendera Arajang tersebut tidak dapat dibuktikan secara fakta budaya, karena Bendera tersebut telah dibakar oleh Gerombolan DI/TII dimasa kekacauan di Selawesi Selatan tahun 1953.

c.      La Manna sebagai seorang patriot, mewariskan kepada putera-putera

keturunannya tentang rasa fanatik memegang amanah dan pesan2 orang tua leluhur mereka. Dan adapun pesan2 yang merupakan sumpah ikrar La Manna kepada anak cucunya, antara lain sebagai berikut:

 

-    Sesuatu hal yang dikerjakan, apakah baik atau buruk, harus disertai kesungguhan dan kesiap-siagaan menghadapi konsekwensinya.

-        Pesan Bahasa Bugis: - Molaki Laleng natomakkalitutu,

                               - Molaki lempe' natomarala soro,

                               - Narekko polei salaga mawatangE, 

                                 rebbako nalalo.

 

Artinya dalam Bahasa Indonesia: Menempuh jalan dengan berhati-hati, menghadapi banjir harus mengala mundur. Jika datang tenaga raksasa 

(penguasa) hindarilah hingga sikuat melintas berlalu.

d.     Pesan Bahasa Bugis:

-        Pakkanna mawatange ri palippi Botto,

-        Belo jajareng melle' ri toddang Baringeng,

-        Taddanrang puli leba ri sepe' passiring,

-        Calowoi nairing pattawe ininnawa.

Artinya dalam Bahasa Indonesia:

-     Pasukan (Prajurit) yang bertahan diseputar Botto,

-     Anak muda yang lahir dikaki pendakian Baringeng,

-     Mereka akan tetap tenang didaerahnya sendiri,

-     Dengan bujukan yang lembut adalah jaminan perasaan.


      Pesan2 inilah yang sempat ditemukan dalam sejarah, sebagai hukum perjanjian amanah putera2 daerah di desa Benteng TelluE sebagai pesan turun - termurun dari leluhurnya.

 

7.    MASALAH KERAJAAN AMALI

 

Bagi pengamat Sejarah telah memahami status Kerajaan2 kecil si Indonesia, bukan saja di Sulawesi Selatan, bahkan diseluruh Indonesia, bahwa Kerajaan2 merupakan Negara yang tersendiri yang berdaulat penuh keluar dam kedalam, dan masing2 Kerajaan Kecil ingin lepas dan bebas dari pengaruh kekuasaan kerajaan besar.

 

Karena suasana pada waktu-waktu dahulu kerajaan berdiri sendiri, belum ada istilah Negara Kesatuan seperti sekarang ini. Bahkan sepenjang sejarah Indonesia baru dua kali terjadi Negara Kesatuan, ialah Kerajaan Sriwijaya ( ± 700 ) dan Kerajaan Majapahit ( ± tahun 1300M ) dan untuk ketiga kalinya ialah 17 Agustus 1945. Jadi tidak diherankan, diluar dari pada Sriwijaya dan Majapahit, kerajaan2 kecil di Indonesia pada waktu itu sering timbul persaingan, tabrakan, insiden dan perang saudara antara raja2 dengan raja lainnya. Demikian pula hanya dalam lingkungan Kerajaan Bone, kerajaan kecil biasa terjadi/pengaruh saingan antara kerajaan2 kecil betetangga. Jadi bukanlah mengungkap relatif sejarah, bahwa dalam sejarah dijumpai pertentangan antara Amali dan Timurung, hal ini adalah masalah kecil antara raja2 berdekatan, yang pada hakikatnya adalah tak dapat disangkal adanya hubungan kekeluargaan dan persaudaraan antara raja2 yang pernah mengandalikan masing2 daerah, seperti halnya pertikaian kedalam yang dialami oleh kerajaan kecil lainnya di Indonesia.

 

Seperti kita ketahui, bahwa BottoE dahulu atau Desa Benteng TelluE sekarang adalah bahagian dari kekuasaan Arung Amali, dimana pusat pemerintahannya berkedudukan di Taretta.

 

Sejarah Amali hanya diketahui secara singkat pada waktu belakangan ini, bahwa raja2 yang pernah memerintah di Amali menurut struktur silsila sesudah jatuhnya Kerajaan Bone ditangan Belanda. Dan raja2 Amali yang memerintah di Amali setelah jatuhnya Kerajaan Bone ditangan Belanda adalah berikut:

1.    Andi Mappadapi,

2.    Andi Mallu,

3.    Andi Jakkolo,

4.    Andi Panggeleng,

5.    Andi Mappesessu,

6.    Andi Baso Songe,

7.    Andi Pammusu,

8.    Andi Pasampuri.

 

Sedangkan raja yang memegang tampuk Pemerinahan di Amali pada masa perang Belanda dengan Kerajaan Bone ialah “TUANG CALONG” yang bergelar Arung Amali (Petta Amali).

 

Setelah Kerajaan Bone praktis takluk dibawah kekuasaan Belanda Kompeni, maka kerajaan kecil Amali yang dibawah kekuasaan Kerajaan Bone secara otomatis pula dikuasai oleh Belanda dan struktur Pemerintahan secara dramatis pula diadakan pembaharuan, dimana Kerajaan kecil Amali ini dirobah menjadi Disterik yang diperintah oleh seorang SULLEWATANG yang berkedudukan di Taretta.

 

8.  TABBA'E DAN LAPONRONG (DESA BENTENG TELLUE) PISAH DENGAN   AMALI

 

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Selatan No.450/XII/1964 tentang pembentukan Desa Gaya Baru di Sulawesi Selatan, maka struktur pemerintahan Desa di Kabupaten Bone turut mengalami perubahan.

 

Perubahan tersebut meliputi peleburan disterik menjadi Kecamatan, dan

Kampung menjadi Desa. Ibu Kota Disterk Amali, ialah Taretta menjelma menjadi Desa tersendiri dengan nama Desa WaEmputtangngE dengan ibukota desanya Taretta yang dimasukkan dalam wilayah Kecematan Ulaweng.

 

BottoE, menjelma menjadi satu desa yang tersendiri pula dengan nama “ DESA BENTENG TELLUE” dengan ibu kota desanya “TABBA'E” dan dimasukkan ke dalam Kecamatan Ajangale'.

 

Dengan demikian “BottoE” yang dikenal sejarahnya pada tahun 1800M, adalah bahagian dari pada Kerajaan Amali dahulu, dan pada tahun 1964 menjelmalah menjadi salah satu desa tersendiri menjadi desa Benteng TelluE dalam lingkungan Kecematan Ajangale.

 

9.    SYARAT KEPEMIMPINAN ANREGURU DI BOTTOE

 

Pada masa Pemerintahan Kerajaan Amali dahulu, untuk memperlancar roda Pemerintahannya, menempetkan penguasa khusu di BottoE ( TabbaE ) yang orangnya disyaratkan dari keturunan masyarakat setempat, dengan gelar “Anreguru”. Dan Anreguru harus memiliki beberapa syarat kepemimpinan yang antara lain sebagai berikut:

a.  Identitasnya harus jelas dan tidak meragukan.

b.  Keterampilan dan kesempurnaan pisik (tidak cacat).

c.  Jiwa patriotik yang terarah.

d.  Personal harus dari keturunan setempat.

e.  Tidak berjiwa aponturir.

 

Demikianlah antara lain unsur2 persyaratan yang diperlukan bagi seorang Anreguru di BottoE.

 

10.  SUSUNAN ANRE GURU DI BOTTOE

 

Berdasarakan catatan sejarah, bahwa susunan Anreguru di BottoE adalah sebagai berikut:

1.  La Manna

2.  I Santa (kemenakan La Manna)

3.  Jalide (Anreguru BottoE)

4.  Haji Page (Anreguru BottoE)

5.  Rusi (1964 s/d. 1967) pertama kali pembentukan Desa Gaya Baru.

6.  Alimuddin Page (1967 s/d. sekarang)

 

Di dalam sejarah Anreguru di BottoE (Benteng TelluE) ialah Haji Page yang paling lama memerintah ± 40 tahun lamanya. Haji Page, adalah keturunan dari La Manna yang memerintah secara turun-temurun di BottoE sampai sekrang. Sedangkan Alimuddin adalah salah seorang putra dari Haji Page yang memerintah di BottoE (TabbaE) dengan gelar Kepala Desa Benteng TelluE. Haji Page (Anreguru Botto) bapak kandung dari Alimuddin Kepala Desa Benteng TelluE, dengan usia sudah lebih satu abad dengan perawakan yang cukup kekar sekarang masih hidup dengan kesehatan rohani dan Jasmanyah yang mantap.

 

Demikianlah sekelimut sejarah singkat Desa Benteng TelluE mulai dari awal sampai sekarang ini.

 

Secara biologis erat hubungnya dengan Baringeng sesuai sumber nenek moyang daerah ini “yaitu La Manna” yang telah diuraikan pada halaman2 pendahuluan. Hingga pada sekarang ini, penduduk Desa Benteng TelluE, masi mempunyai ciri2 peninggalan di zaman dulu, dari segi kepemimpinan dan rasa panatisme terhadap pemerintahannya. Dan sebagai fakta yang dapat diuraikan secara singkt proses terjadinya Desa Benteng TelluE adalah sebagai berikut:

1.  Secara Geographie:

Desa Benteng TelluE berbatasan dengan Baringeng Kabupaten Soppeng, sesuai dengan data analisa hijerahnya La Manna dari Baringeng ke BottoE dimana kawasan Benteng TelluE berada disebelah Utara Tassipi yang membuktikan bahwa Benteng TelluE dahulu adalah bahagian dari Kerajaan Amali yang berkedudukan di Taretta.

2.  Segi Sosioligie:

Rumpun masyarakat Desa Benteng TelluE, merupakan satu keluarga dikalangan penduduk, sehingga antara kampung dengan kampung masih erat pertalian darah dan hubungan keluarga satu diantara keluarga yang lain.

3.  Segi Historis:

Peninggalan penelitian sejarah yang masih dapat dipertanggung jawabkan hingga pada saat sekarang ini antara lain sebagai berikut:

a.  Ketiga Benteng Pertahanan yang terdapat didesa tersebut, masih ada bekas2 penggalian dan timbunan.

b. Bendera arajang yang tersendiri, meskipun telah dibakar oleh Gerombolan pada masa kekacauan DI/TII, namun sampai sekarang masih banyak saksi hidup yang pernah melihatnya bahkan yang menyimpannya.

c.  Jaminan hak azasi kebebasan yang dituntut oleh nenek moyang BottoE ( La Manna) kepada Arung Amali, membuktikan pada masa sekarang ini rasa panatisme rakyat kepada pemimpinnya (Kepala Desanya) yang diketahui unsur identitasnya, termasuk keturunan personal kepemimpinannya dsb.

d.  Dari segi politik.

Kesadaran masyarakat setempat terhadap masalah politik adalah wadah orde baru dengan aspirasi politiknya 100% Golongan Karya, sedangkan dibidang Siskamling yang memegang peranan adalah Hansip dan Masyarakat setempat.

e.  Bahasa:

Bahasa sebagai alat komunikasi adalah bahasa Bugis yang secara nada dan langgamnya transisi pengaruh Bone-Soppeng-Wajo.

f.   Dari segi ekonomi.

Mata pencaharian pokok masyarakat setempat sebagai dataran tinggi, sebagian besar hidup dengan hasil pertaniaannya berupa padi dan jagung, tembakau, pisang, kelapa dan sebagainya, dan ada pula yang hidup dengan perdagangan kecil-kecilan dan menjadi pegawai negeri, guru, dan pertukangan dsb.

 

Berdasarkan dengan uraian tersebut, maka dapatlah diwujudkan beberapa bukti peninggalan sejarah yang merupakan latar belakang terbentuknya Desa Benteng TelluE hingga pada saat sekarang ini. Demikianlah proses perkembangan Desa ini mengikuti perkembangan zaman dari masa kemasa.

 

Patut disadari, bahwa sebagai daerah yang jauh terpencil dari kesibukan kota, tidak heran kalau daerah ini pernah mangalami kehancuran total pada masa DI/TII Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan dan nanti pada tahun 1964 baru bangun kembali dan dengan tekad semangat “TULU TELLU PARAJOE TEA PETTU“ Desa Benteng TelluE sadar akan ketinggalannya dan terus bangkit membangun memburu ketinggalannya yang selama kurang lebih 14 tahun terisoler dari kesibukan pembangunan.

 

    B.    PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN DESA BENTENG TELLUE

 

Berbicara mengenai perkembangan pembangunan Desa Benteng TelluE dapat dikatan baru dimulai sejalan dengan pembentukan Desa Gaya Baru sebagai Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Selatan No.450/XII/1964, maka sejak itu pula Desa Benteng TelluE telah dibina kembali dalam tiga pentahapan yaitu tahap konsolidasi, rehabilitasi dan stabilitasi.

 

Namun secara geografi Desa Benteng TelluE sejak tahun 1964, secara bertahap dibangun dengan dana dan daya yang ada, sehingga setelah melalui tahap2 tersebut diatas, maka Desa Benteng TelluE telah mencapai beberapa kemajuan jika dibanding dengan masa2 sebelumnya.

 

Sebelum kita menguraikan beberapa perkembangan yang telah dicapai oleh Desa Benteng TelluE, kita harus memperhatikan lebih dahulu struktur organisasi Pemerintahan desanya sebagai faktor penunjang dan pelaksana pembangunan.

 

   C.    BIDANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DESA

 

Berbicara mengenai Administrasi Pemerintahan, maka hal ini merupakan masalah yang sangat penting dan menentukan, sebab pada hakikatnya yang menjadi inti dari pada organisasi adalah administrasi.

 

Selanjutnya untuk mencapai tingkat administrasi yang baik tergantung dari pada personal-personal yang mantap, maka hal ini dapat digambarkan struktur organisasi pemerintahan Desa Benteng TelluE sebagai berikut:

 

1.     Kepala Desa                                              : Alimuddin Page.

2.     Sekertaris Desa                                         : H. Abd. Hattab Page.

3.     Kepala Urusan Pemerintahan                    : M. Saad B.

4.     Kepala Urusan Ekonomi/Pemb-

ngunan                                                     : H. Abd. Jabbar Page.

5.     Kepala Urusan Kesra                                : Hayyong.

6.     Kepala Urusan Keuangan                          : Abd. Majid Page.

7.     Kepala Urusan Umum                               : Syamsuddin Tahier.

8.     Kepala-Kepala Dusun yang terdiri:

                    

a.    Kepala Dusun TabbaE                             : M. Idrus.

b.    Kepala Dusun WanuaE                            : Sire.

c.    Kepala Dusun Kampung Lampe                : Abd. Halim.

d.    Kepala Dusun Curikki                              : A. Mappatang.

e.    Kepala Dusun Laponrong Riattang            : M. Bahri Tahang.

f.     Kepala Dusun Laponrong Riawang            : Baba Katutu.

 di samping personal-personal desa tersebut di atas, ada pula lembaga- lembaga desa dan Lembaga Masyarakat yang merupakan parner desa yaitu L.M.D dan L.K.M.D.

 

Apa yang kami Kemukakan tentang administradi Pemerintahan Desa di atas dapat dilihat melalui buku-buku administrasi yang ada di Kantor Desa, melalui Papan Potensi dan lain-lainnya yang ada kaitannya dengan administrasi Pemerintahan, termasuk pula Administrasi L.K.M.D dan P.K.K.

 

 

P    E    N    U    T    U    P

 

Di dalam menguraikan buku Selayang Pandang Desa Benteng TelluE Kecamatan Ajangale Kabupaten Daerah Tingka II Bone di susun dalam bentuk sederhana dan sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, pada kata pengantar yang merupakan mukaddimah dari Buku Seleyang Pandang ini, kami dahulukan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas koreksi yang bersifat membangun.

 

Buku ini disusun bukan hanya sekadar dibuat dalam rangka mengukuti perlombaan Pembangunan Desa Tingkat Propinsi Sulawesi Selatan tahun 1984/1985. Akan tetapi, merupakan bahan yang sangat penting memperkenalkan Desa Benteng TelluE baik dari segi Geografisnya, Demografie dan Adat-istiadatnya yang ada.

 

Untuk itu dapat dikemukakan disini, bahwa pembangunan desa adalah bagian integral dari pembangunan Nasional. Pembangunan desa bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejakteraan masyarakat desa sebagai usaha dari kegiatan pembangunan yang dilaksanakan pada unit pemerintahan terendah di perdesaan sampai dengan di perkotaan. Oleh karena itu, istilah pembangunan desa  sudah mengandung arti Pembangunan Masyarakat Desa, dimana usaha2 Pemerintahan selalu berintegrasi dengan usaha2 masyarakat dengan maksud dan tujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Pembangunan masyarakat itu pun sudah pula mengandung arti pembagunan dengan pendekatan kemasyarakat, dengan partisipasi masyarakat dan pengorganisaan masyarakat yang pelaksanaannya diorientasikan sepenuhnya pada insentif dan kreasi masyrakat itu sendiri.

 

 Sebuah kewajaran apabila di dalam setiap gerak langkah pembangunan itu dimana saja, haruslah bersama dan dengan mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat. Pada hakikatnya pembangunan manusia itu sendiri, yaitu pembangunan manusia untuk membangun dan  meningkatkan rasa kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui perubahan sikap mental, pandangan hidup, cara berfikir dan berbuat, baik dalam membangun diri sendiri maupun masyarakat dan lingkungannya.


Sebagai akhir kata dari penutup Buku Selayang Pandang ini sebagai motto yang sangat berharga, kami cukilkan sekelumit kalimat dari Bab Penutup GBHN sbb. Berhasilnya pembangunan nasional tergantung pada sikap mental, tekad dan semangat, ketaatan dan disiplin seluruh rakyat Indonesia serta para penyelenggara negara". 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar