SELAYANG PANDANG
DESA BENTENG TELLUE
KECAMATAN AJANGALE KABUPATEN BONE
Editor:
Boby ALP. & Hj. Adriani ALP.
Kata Pengantar
Bismillahir Rahmanir Rahiem.
Buku Selayang Pandang Desa Benteng TelluE, Kecamatan Ajangale Kabupaten Daerah Tingkat II Bone, diterbitkan atas dasar harapan agar Desa Benteng Tellue lebih dapat dikenal melalui media penerbitan Buku Selayang Pandang ini.
Kami sadari, bahwa "Buku Selayang Pandang" ini masih jauh dari kesempurnaan dan di sana sini masih banya kekurangannya. Namun, kami masih tetap berharap mudah-mudahan buku ini dapt berfungsi sebagai sumber informasi dan dapat memberikan jawaban kepada setip orang yang belum dan ingin mengenal hakikat dan identitas sebenarnya Desa Benteng TelluE walaupun hanya secara sepintas dalam lintasan ingatan.
Untuk menemukan kesempurnaan Buku Selayang Pandang Desa Benteng TelluE ini, dengan segala rasa senang hati kami senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan, bahkan menantikan kritikan-kritikan dari manapun datangnya yang bersifat pembenahan. Kami yakin, bahwa Buku Selayang Pandang ini, bukan hanya satu kali saja akan mengalami penerbitan, tetapi Insya Allah akan terbit berkali-kali lagi pada hari-hari mendatang dan akan berkembang terus-menerus mengikuti situasi, kondisi, dan dinamika perkembangan Desa Benteng TelluE dari masa-ke masa, yang disinari oleh jiwa dan semangat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Untuk itu kepada semua pihak yang telah memberikan buah-buah pemikirannya, daya dan upayanya dalam rangka penyusun Buku Selayang Pandang ini, atas nama Pemerintah dan seluruh masyarakat Desa Benteng TelluE mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas selaga jasa-jasa dan sumbangsinya kepada kami dan semoga Tuhan Subehanahu Wataala memberkatinya.
Pada akhirnya, dengan penuh rasa kerendahan hati, kami mempersembahkan BUKU SELAYANG PANDANG DESA BENTENG TELLUE ini, kepada Bapak Ketua dan Anggota Team Penilai Lomba Pembangunan Desa Tingkat Propinsi Sulawesi Selatan dengan iringan harapan dan doa. Semoga bermanfaat adanya.
Wassalam. Wabillahit Taufiq Walhidayah.
|
Tabba'E, 27 April 1984. KEPALA DESA BENTENG TELLUE,
(ALIMUDDIN
PAGE) |
AFTAR ISI
A. SEJARAH SINGKAT DESA BENTENG TELLUE HAL
1. Pendahuluan 5
2. Dasar Pengkajian sejarah 5
3. Asal mula Desa Benteng TelluE 9
4. Asal mula Nama Laponrong 10
5. Asal mula Nama TabbaE 10
6. Kepemimpinan La Manna 12
7. Masalah Kerajaan Amali 13
8. TabbaE dan Laponrong ( Desa Benteng TelluE )
pisah dengan Amali 15
9. Syarat Kepemimpinan Anreguru 15
10. Susunan Anreguru di BottoE 16
B. PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN DESA BENTENG TELLUE 18
C. BIDANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DESA 19
- PENUTUP 21
GAMBARAN UMUM DESA BENTENG TELLUE KECAMATAN AJANGALE
KABUPATEN DAERAH
TINGKAT II BONE 1983/1984
A. SEJARAH SINGKAT DESA BENTENG TELLUE
1.
PENDAHULUAN.
Mengungkap suatu sejarah tidak mudah, karena selain memerlukan keterangan-keterangan yang tepat dan benar (authentik), juga diperlukan suatu penelitian sejarah (catatan hidup) tersendiri yang merupakan bengkalai peninggalan sejarah (lontaraq) dari suatu daerah. Demikian pula halnya sejarah singkat Desa Benteng TelluE Kecamatan Ajangale. Penggalian sejarahnya, hanya dapat diungkap sekadar beberapa catatan rangkaian dari sekelimut sejarah dan budaya daerah Bone yang ditunjang oleh keterangan2 lisan dari beberapa orang tua daerah yang sempat mengenal dekat sasaran dari suatu unsur penelitian.
2. DASAR PENGKAJIAN SEJARAH
Riwayat tentang penduduk asli Desa Benteng TelluE, berasal dari “BARINGENG” Kabupaten Daerah Tingkat II Soppeng. Sudah menjadi tradisi di suatu daerah, sangat erat hubungannya dengan sejarah daerah lain.
Konon kabarnya
yang menjadi nenek moyang keturunan dari penduduk Desa Benteng TelluE ialah “La
Manna” yang pada mulanya bermukim tetap di Baringeng ( Soppeng ).
La Manna dalam
hubungannya dengan raja-raja di Soppeng sangat dekat, sehingga raja-raja di
Baringeng mengangkat La Manna menjadi Indo Anang ( orang tua daerah). Keadaan ini
berkisar pada abad ke XVII. La Manna dikalangan raja-raja di Baringeng dianggap
sebagai sesepuh, bahkan dianggap sebagai penasehat dalam segala bentuk
tindakan. Rupanya hubungan baik ini tidak berjalan lama, kerena adanya
perbedaan pendapat antara La Manna dengan raja-raja di Baringeng. Perselisihan
paham ini disebebkan oleh faktor etika dan tradisi yang dikehendaki oleh
raja-raja di baringeng yang disanggah keras oleh La Manna. Dasar inilah yang
menjadi pertentangan sehingga Baringeng berbuat sekehendak hatinya tanpa
meminta pertimbangan lagi dari La Manna yang dianggap sebagai Indo – Anang (
orang tua daerah ). Kejadian inilah yang menyebabkan La Manna meninggalkan
Baringeng dan bertekad untuk hijrah kedaerah lain.
Setelah
dipertimbangkan secara matang dan mendasar, La Manna dengan pendukung dan
penganutnya ± 40 orang kepala keluarga yang setia kepadanya meninggalkan
Baringeng menuju daerah tempat pemukiman baru.
Sebagai musafir
yang sedang dalam perjalanan, La Manna bersama rombongan pengikutnya menuju
kearah Timur dan di suatu tempat yang agak teduh mereka singgah sebentar mengasoh
menghilangkan lelah. Itulah sebabnya tempat persinggahan itu dinamai Leppangeng
(Bahasa Bugis: artinya tempat singgah) dan dapat dibuktikan sampai sekarang
kampung tersebut tetap bernama Leppangeng yang letaknya tidak jauh dari Desa
Timurung.
Selanjutnya La
Manna bersama rombongan melanjutkan perjalanan dan tiba pada suatu daerah yang
agak ketinggian, La Manna bersama rombongan singgah pada tanah ketinggian
tersebut, sehingga tempat tersebut oleh pengikutnya La Manna dinamakan Botto-Botto (bahasa Bugis: Botto-Botto artinya tanah ketinggian). Dan BottoE inilah
yang menjadi nama asli dari ibu kota Desa Benteng TelluE yang belakangan ini
lebih dikena dengan nama TabbaE.
Di BottoE inilah
La Manna bersama rombongan mengadakan suatu upacara tradisi yang merupakan
pesta wasilaturrahmi kekeluargaan sekaligus merupakan doa keselamatan (bahasa
Bugis: Doa sipulung) atas tibanya bersama rombongan di BottoE sebagai tempat
pemukiman yang baru.
Upacara tradisi
pesta kesyukuran tersebut yang ditunjang oleh beberapa sarana kesenian seperti
gendang bulo, kecapi, anak beccing dsb. Yang dipadukan menjadi satu komponen
musik yang melahirkan suatu nada dan irama lagu yang sangat serasih dan menawan
hati dengan nilai budaya yang sangat tinggi artinya dan berhasil menarik
perhatian bagi setiap orang yang mendengarnya.
Sesaat
berlangsungnya acara upacara doa syukur tersebut tiba2 langgarlah Arung Amali
bersama rombongan dalam perjalanan menuju Timurung dalam rangka sesuatu rurusan
Pemerintahan Kerajaan.
Sekembalinya Arung
Amali dari Timurung, Arung Amali dan rombongan masih melihat La Manna bersama
anggotanya mengadakan acara kesenian dengan mesrah, sehingga menurut tanggapan
Arung Amali, bahwa kehadiran La Manna ditempat tersebut, merupakan suatu
kegaiban dan dianggapnya sebagai “TOMANURUNG” di BottoE.
Selanjutnya Arung
Amali mengirim kurir dari Taretta yang dinamakan Buto (bahasa Bugis: artinya
Juru bicara Istana) untuk menemui La Manna di BottoE yang dianggapnya sebagai
Tomanurung. Hasil pembicaraan tersebut, Arung Amali melalui utusan Butonya
menanyakan kepada La Manna, tentang apa maksud tujuannya berada di BottoE,
kemana tujuannya dan dimana arah perjalanannya. Dalam pada itu La Manna
memberikan pernyataan kepada Arung Amali, bahwa kehadirannya di BottoE tidak lain
untuk mencari standar hidup sebagai daerah pemukiman yang baru dan mereka
berhijrah dari daerah Baringeng (Soppeng), karena sesuatu hal yang tidak
sependapat dengan pihak penguasa di Baringeng.
Selanjutnya Arung
Amali mengajak tawaran kepada La Manna bersama rombongan untuk tinggal menetap
di BottoE sebagai penghuni baru. Tawaran Arung Amali tersebut diterima baik
oleh La Manna dengan mengajukan tiga syarat permintaan yang berbunyi sebagai
berikut:
1.
Bahasa Bugis: - MALLEKKUKA TENRI PAKKEDDE,
-
MAKKAJA TENRI ANGKAH,
-
LOGE KU TENRI AMPIRI;
Artinya dalam bahasa Indonesia: Diwaktu tidurku, tak
seorangpun membangunkan, langkah gerakku tak seorangpun yang bisa membatasi,
dan keadaanku tak seorangpun yang bisa mengawasi.
2.
Bahasa Bugis: - MELLAUKA TANAH ANGKONARENG,
-
KUMANA TUSENG RIWIJA PADDIMURI,
-
AKKINANRENNA IKKENG SILISE LANGKANA.
Artinya dalam bahasa Indonesia: Saya
mengharapkan tanah penghidupan, guna kuwariskan kepada anak cucu keturunanku,
demi keseimbangan hidup sehari seisi rumah dan sekeluarga.
3.
Bahasa Bugis: - NATTAMPA SEKE TENRISANNAE,
-
NATASSUNREWA ARAJANNA AMALI,
-
ASSAILEKO RIPAKKANNA BOTTOE
-
NASARA LALENG NATOSIALLABUANG.
Artinya dalam bahasa Indonesia: Saat
datangnya panggilan mara bahaya, Kerajaan Amali menghadapi ancaman musuh, berpalinglah
kepada Pasukan pilihan La Manna di BottoE, serahkan jalan ke depan bertarung
di medan frontal.
Ketiga usul La Manna ini diterima baik oleh Arung Amali dan usul ini diterima sebagai hukum perjanjian dan sejak itu La Manna dan keturunannya di BottoE berada dibawah panji Arung Amali yang berkedudukan di Taretta.
Untuk mengetahui hakikat ketiga usul
permintaan La Manna kepada Arung Amali, dapat dirumuskan sebagai berikut:
I.
Permintaan tentang hak asasi yang
mutlak untuk berdaulat penuh keluar dan kedalam, namun pada lahirnya tetap
di bawah panji kekuasaan Arung Amali, tetapi dari segi langkah dan gerak
kebebasannya pada hakikatnya meminta status otonom.
II. Meminta penentuan kawasan tetap,
lengkap dengan perbatasan untuk kehidupan anak cucu keturunan bagi La Manna.
III. Jaminan persahabatan senasib sepenanggungan
antara Amali dan BottoE, sekarang TabbaE Ibu Kota Desa Benteng TelluE, sehingga
serangan musuh terhadap Amali merupakan pula serangan bagi BottoE, karena
BottoE sudah merupakan bahagian dari Kerajaan Amali.
3.
ASAL MULA NAMA BENTENG TELLUE
Sebagaimana halnya
kerajaan2 lain di Indonesia pada umumnya dan di Sulawesi Selatan pada
khususnya, antara kerajaan2 kecil sering terjadi perselisihan paham yang
membawa dampak ketegangan. Pertikaian kedalam antara Kerajaan2 kecil yang
saling berdekatan sering terjadi, bai dari segi perbatasan daerah, perbedaan
tradisi masyarakat dll. Permasalahan sering menimbulkan persaingan yang
diakhiri dengan perang saudara.
Dalam proses
perjalanan sejarah tak dapat dihindari, sehingga timbul pertentangan antara
Amali dengan Timurung, sehingga kedua belah pihak saling bersiap dalam segala
bentuk kemungkinan. Sebagai kesiap-siagaan terhadap serangan, maka baik Amali
maupun Timurung masing2 membuat Benteng Pertahanan digaris perbatasan. Pihak
Timurung membangun Benteng pertahanan yang ampuh dan kuat dan diberi nama
Benteng TabbampangE, artinya kubuh pertahanan yang melintang. Sedangkan pihak
Arung Amali mendirikan tiga buah benteng pertahanan diseputar kawasan BottoE.
Ketiga Benteng pertahanan ini dibangun dan konstruksinya disesuaikan dengan
renstra (rencana strategi) pertahanan yang menguntungkan bagi pertahanan dan
penyerangan dimana bentang pertama posisinya menghadapi Telle, benteng kedua
posisinya menghadap penuh kearah Timurung, sedangkan benteng yang ketiga
dipersiapkan sebagai kubuh pertahanan terakhir. Ketiga benteng yang
melatarbelakangi sejarah penjelmaan Desa Gaya Baru Tahun 1964 sehingga lahirlah
istilah “Desa Benteng TelluE” dengan ibu-kotanya “Botto” yang belakangan ini
lebih dikenal dengan nama “TABBAE”.
Dengan munculnya
nama “TabbaE” yang menggantikan ketenaran BottoE akan dijelaskan pada uraian2
selanjutnya.
Desa Benteng
TelluE pada hakikatnya terdiri dari dua buah kampung yaitu BottoE dan
Laponrong. Untuk mengetahui sejarah mula munculnya nama atau istilah kampung
Laponrong, kita harus kembali kepasa sejarah La Manna sebagai tokoh pertama
penghuni kampung BottoE.
4.
ASAL MULA NAMA LAPONRONG
La Manna mempunyai
seorang sahabat yang merupakan penasihat pribadi. Sesudah santap siang di
BottoE, secara kebetulan sahabat La Manna tersebut menelan tulang ikan dan
menghadang dikerongkongannya sehingga menderita kesakitan yang tak terhingga
dan menyebabkan kematiannya. Sahabat La Manna tersebut bernama La Palesangi
yaitu salah seorang teman seperantauan La Manna dari Baringeng Kaupaten
Soppeng. La Palesangi, demikianlah nama sahabat akrab La Manna tersebut, karena
dia lahir ketika matahari condong ke Barat ( bahasa Bugis, Lesang artinya
condong ).
Sesaat La
Palesangi menghadapi zakaratul maut karena pengaruh kesakitan yang dideritanya,
La Palesangi meronta-ronta dan kedua belah tangan dan kakinya disentak-sentak jatuh
bangun menghempaskan diri ketanah dan akhirnya menemui ajalnya. Jenasah La
Palesang dikuburkan ditempat itu juga, ditempat ia menghembuskan nafasnya yang
terakhir dalam keadaan sangat ngeri “Maponrang-ponrang” artinya meronta-ronta.
Itulah sebabnya maka diseputar tempat itu para sahabat La Palesangi menamai
Laponrong. Dan dari proses perjalanan dari waktu kewaktu dan tahun demi tahun
akhirnya tempat itu mengembang menjadi suatu perkampungan penduduk yang besar
dan itulah sekarang jadi Dusun Laponrong, salah satu Dusun di Desa Benteng
TelluE.
5.
ASAL MULA NAMA TABBAE
Setelah Lottoe dan Laponrong secara formil
berada dalam kekuasaan wilayah hukum Arung Amali, maka status Pemerintahan di Bottoe dibagi - gelaran “Anre-Guru” yang statusnya sama dengan kedudukan Kepala
Kampung. Jadi La Manna, ialah Anre-Guru pertama di Bottoe dan melekasanakan
tugas pemerintahan sebagai bahagian dari wilayah takluk Kerajaan Arung Amali
yang berkedudukan di Taretta.
Karena Baringeng
dengan BottoE, persis letaknya pada posisi perbatasan Soppeng dengan Amali,
sehingga baik penduduk Baringeng maupun BottoE sering timbul insiden
perbatasan, terutama dalam masalah
perburuan rusa dihutan-hutan perbatasan. Karena penduduk Baringeng sering
kali melakukan perburuan rusa dikawasan hutan BottoE tanpa izin dari pihak
penguasa di BottoE, sehingga timbullah ketegangan antara Arung Amali dengan
pihak Penguasa di Baringeng.
Karena dianggap
salah satu perkosaan hak, Arung Amali mengeluarkan suatu ultimatum yang
sifatnya peringatan terakhir kepada pihak penguasa di Baringeng, agar Baringeng
menghormati wilayah territorial Kerajaan Amali di BottoE tentang seringnya
terjadi pelanggaran wilayah perbatasan yang dilakukan oleh penduduk Baringeng.
Dan sebagai sangsi adanya ultimatum tersebut, Arung Amali memerintahkan kepada
Anreguru BottoE agar mengadakan penjagaan ketat dan konsolidasi kekuatan
dikawasan Selatan hutan BoottoE. Dan setelah perintah ini diterima oleh La
Manna, maka La Manna mengadakan rapat khusus dengan para pemuka masyarakatnya
yang diakhiri dengan suatu perintah penegasan, bahwa barangsiapa yang berani melenggar
wilayah perbatasan kita tanpa syarat, “SITABBA' BESSIKO” (artinya baku hantam saja
dengan tombak) dan jangan mundur. Bahasa Bugis: “Sangadi Maretto Tellu Lisenna
CenranaE Muaddampeng soro” (maksudnya dalam bahasa Indonesia jangan mundur
setapakpun kecuali kalau senjatamu sudah patah tiga). Demikian antara lain
kata2 penegasan La Manna kepada pasukannya yang berjaga-jaga pada posisi
kawasan Selatan hutan BottoE.
Namun, tidak jelas
dalam sejarah, bahwa penduduk BottoE dengan Baringeng pernah terjadi
pertumpahan darah akibat pelanggaran daerah perbatasan, tetapi barangkali
justru faktor ketegasan perintah La Manna ini kepada pasukannya dengan istilah
“sitabba bessi” sehingga diseputar tempat penjagaan pasukan La Manna ini
disebut “TABBAE” dan dalam proses perkembangannya, lama-kelamaan nama TabbaE
lebih populer dan lebih tenar dari pada BottoE, namun pada hakikatnya “TabbaE”
yang kita kenal sekarang sudah dinobatkan menjadi Ibu Kota Benteng telluE,
tidak lain perwujudan dari pada BottoE yang merupakan nama asli kampung
tersebut.
6.
KEPEMIMPINAN LA MANNA
Kepemimpinan La
Manna sangat makmur, rakyat BottoE sangat stabil, tentram dan aman. La Manna
sering langsung menghadap Istana Raja Bone dengan membawa upeti persembahan,
meskipun kedudukan La Manna pada Pemerintahan Arung Amali digelar Anreguru yang
setingkat dengan Kepala Kampung BottoE, namun Raja Bone We Patimah Banri MATINROE ri Bolamparenna memberikan julukan kepada La Manna “LATEMMANINI”. La Manna
sebagai pemula Kampung BottoE, mempunyai unsur2 kelebihan sebagai berikut:
a.
La Manna cukup disegani oleh kawan dan
lawan, karena selain ia sebagai pemberani juga ia dikenal sebagai penembak
mahir yang mampu membidikkan senapannya dengan penglihatan kekuatan bathin,
pengendalian peluru sasarannya tergantung dari pada kehendaknya.
b. La Manna mempunyai Bendera Daerah yang
tersendiri (Arajang – Manurung ) yaitu bendera pusaka yang tergantung dipohon
kayu besar di BottoE, dengan warna dasar hijau-tua dengan garis melintang
putih, entah dari mana datangnya secara awal, karena pertama kalinya dikenal,
dijumpai berkibar dipuncak pohon kayu besar. Bendera tersebut oleh keluarga La
Manna dan pengikutnya menganggap “Bendera Arajang Manurung” sama halnya Bendera
“BATE” bagi Kerajaan Bone. Hanya sayangnya Bendera Arajang tersebut tidak dapat
dibuktikan secara fakta budaya, karena Bendera tersebut telah dibakar oleh
Gerombolan DI/TII dimasa kekacauan di Selawesi Selatan tahun 1953.
c.
La Manna sebagai seorang patriot,
mewariskan kepada putera-putera
keturunannya
tentang rasa fanatik memegang amanah dan pesan2 orang tua leluhur mereka. Dan
adapun pesan2 yang merupakan sumpah ikrar La Manna kepada anak cucunya, antara
lain sebagai berikut:
- Sesuatu hal yang dikerjakan, apakah
baik atau buruk, harus disertai kesungguhan dan kesiap-siagaan menghadapi
konsekwensinya.
- Pesan Bahasa Bugis: - Molaki Laleng natomakkalitutu,
- Molaki lempe' natomarala soro,
- Narekko polei salaga mawatangE,
rebbako nalalo.
Artinya dalam Bahasa Indonesia: Menempuh jalan dengan berhati-hati, menghadapi banjir harus mengala mundur. Jika datang tenaga raksasa
(penguasa) hindarilah hingga sikuat melintas berlalu.
d.
Pesan Bahasa Bugis:
-
Pakkanna mawatange ri palippi Botto,
-
Belo jajareng melle' ri toddang
Baringeng,
-
Taddanrang puli leba ri sepe' passiring,
-
Calowoi nairing pattawe ininnawa.
Artinya dalam
Bahasa Indonesia:
-
Pasukan (Prajurit) yang bertahan
diseputar Botto,
-
Anak muda yang lahir dikaki pendakian
Baringeng,
-
Mereka akan tetap tenang didaerahnya
sendiri,
- Dengan bujukan yang lembut adalah jaminan perasaan.
Pesan2 inilah yang sempat ditemukan dalam sejarah, sebagai hukum perjanjian amanah putera2 daerah di desa Benteng TelluE sebagai pesan turun - termurun dari leluhurnya.
7.
MASALAH KERAJAAN AMALI
Bagi pengamat
Sejarah telah memahami status Kerajaan2 kecil si Indonesia, bukan saja di
Sulawesi Selatan, bahkan diseluruh Indonesia, bahwa Kerajaan2 merupakan Negara
yang tersendiri yang berdaulat penuh keluar dam kedalam, dan masing2 Kerajaan
Kecil ingin lepas dan bebas dari pengaruh kekuasaan kerajaan besar.
Karena suasana
pada waktu-waktu dahulu kerajaan berdiri sendiri, belum ada istilah Negara
Kesatuan seperti sekarang ini. Bahkan sepenjang sejarah Indonesia baru dua kali
terjadi Negara Kesatuan, ialah Kerajaan Sriwijaya ( ± 700 ) dan Kerajaan
Majapahit ( ± tahun 1300M ) dan untuk ketiga kalinya ialah 17 Agustus 1945.
Jadi tidak diherankan, diluar dari pada Sriwijaya dan Majapahit, kerajaan2
kecil di Indonesia pada waktu itu sering timbul persaingan, tabrakan, insiden
dan perang saudara antara raja2 dengan raja lainnya. Demikian pula hanya dalam
lingkungan Kerajaan Bone, kerajaan kecil biasa terjadi/pengaruh saingan antara
kerajaan2 kecil betetangga. Jadi bukanlah mengungkap relatif sejarah, bahwa
dalam sejarah dijumpai pertentangan antara Amali dan Timurung, hal ini adalah
masalah kecil antara raja2 berdekatan, yang pada hakikatnya adalah tak dapat
disangkal adanya hubungan kekeluargaan dan persaudaraan antara raja2 yang
pernah mengandalikan masing2 daerah, seperti halnya pertikaian kedalam yang
dialami oleh kerajaan kecil lainnya di Indonesia.
Seperti kita
ketahui, bahwa BottoE dahulu atau Desa Benteng TelluE sekarang adalah bahagian
dari kekuasaan Arung Amali, dimana pusat pemerintahannya berkedudukan di
Taretta.
Sejarah Amali
hanya diketahui secara singkat pada waktu belakangan ini, bahwa raja2 yang
pernah memerintah di Amali menurut struktur silsila sesudah jatuhnya Kerajaan
Bone ditangan Belanda. Dan raja2 Amali yang memerintah di Amali setelah
jatuhnya Kerajaan Bone ditangan Belanda adalah berikut:
1.
Andi Mappadapi,
2.
Andi Mallu,
3.
Andi Jakkolo,
4.
Andi Panggeleng,
5.
Andi Mappesessu,
6.
Andi Baso Songe,
7.
Andi Pammusu,
8.
Andi Pasampuri.
Sedangkan raja
yang memegang tampuk Pemerinahan di Amali pada masa perang Belanda dengan
Kerajaan Bone ialah “TUANG CALONG” yang bergelar Arung Amali (Petta Amali).
Setelah Kerajaan
Bone praktis takluk dibawah kekuasaan Belanda Kompeni, maka kerajaan kecil
Amali yang dibawah kekuasaan Kerajaan Bone secara otomatis pula dikuasai oleh
Belanda dan struktur Pemerintahan secara dramatis pula diadakan pembaharuan,
dimana Kerajaan kecil Amali ini dirobah menjadi Disterik yang diperintah oleh
seorang SULLEWATANG yang berkedudukan di Taretta.
8. TABBA'E DAN LAPONRONG (DESA BENTENG
TELLUE) PISAH DENGAN AMALI
Berdasarkan Surat
Keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Selatan No.450/XII/1964
tentang pembentukan Desa Gaya Baru di Sulawesi Selatan, maka struktur
pemerintahan Desa di Kabupaten Bone turut mengalami perubahan.
Perubahan tersebut
meliputi peleburan disterik menjadi Kecamatan, dan
Kampung menjadi
Desa. Ibu Kota Disterk Amali, ialah Taretta menjelma menjadi Desa tersendiri
dengan nama Desa WaEmputtangngE dengan ibukota desanya Taretta yang dimasukkan
dalam wilayah Kecematan Ulaweng.
BottoE, menjelma
menjadi satu desa yang tersendiri pula dengan nama “ DESA BENTENG TELLUE” dengan
ibu kota desanya “TABBA'E” dan dimasukkan ke dalam Kecamatan Ajangale'.
Dengan demikian
“BottoE” yang dikenal sejarahnya pada tahun 1800M, adalah bahagian dari pada
Kerajaan Amali dahulu, dan pada tahun 1964 menjelmalah menjadi salah satu desa
tersendiri menjadi desa Benteng TelluE dalam lingkungan Kecematan Ajangale.
9.
SYARAT KEPEMIMPINAN ANREGURU DI BOTTOE
Pada masa
Pemerintahan Kerajaan Amali dahulu, untuk memperlancar roda Pemerintahannya,
menempetkan penguasa khusu di BottoE ( TabbaE ) yang orangnya disyaratkan dari
keturunan masyarakat setempat, dengan gelar “Anreguru”. Dan Anreguru harus
memiliki beberapa syarat kepemimpinan yang antara lain sebagai berikut:
a.
Identitasnya harus jelas dan tidak
meragukan.
b.
Keterampilan dan kesempurnaan pisik (tidak cacat).
c.
Jiwa patriotik yang terarah.
d.
Personal harus dari keturunan setempat.
e.
Tidak berjiwa aponturir.
Demikianlah antara
lain unsur2 persyaratan yang diperlukan bagi seorang Anreguru di BottoE.
10.
SUSUNAN ANRE GURU DI BOTTOE
Berdasarakan
catatan sejarah, bahwa susunan Anreguru di BottoE adalah sebagai berikut:
1.
La Manna
2.
I Santa (kemenakan La Manna)
3.
Jalide (Anreguru BottoE)
4.
Haji Page (Anreguru BottoE)
5.
Rusi (1964 s/d. 1967) pertama kali
pembentukan Desa Gaya Baru.
6.
Alimuddin Page (1967 s/d. sekarang)
Di dalam sejarah
Anreguru di BottoE (Benteng TelluE) ialah Haji Page yang paling lama
memerintah ± 40 tahun lamanya. Haji Page, adalah keturunan dari La Manna yang
memerintah secara turun-temurun di BottoE sampai sekrang. Sedangkan Alimuddin
adalah salah seorang putra dari Haji Page yang memerintah di BottoE (TabbaE)
dengan gelar Kepala Desa Benteng TelluE. Haji Page (Anreguru Botto) bapak
kandung dari Alimuddin Kepala Desa Benteng TelluE, dengan usia sudah lebih satu
abad dengan perawakan yang cukup kekar sekarang masih hidup dengan kesehatan
rohani dan Jasmanyah yang mantap.
Demikianlah
sekelimut sejarah singkat Desa Benteng TelluE mulai dari awal sampai sekarang
ini.
Secara biologis erat hubungnya dengan Baringeng sesuai sumber nenek moyang daerah ini “yaitu La Manna” yang telah diuraikan pada halaman2 pendahuluan. Hingga pada sekarang ini, penduduk Desa Benteng TelluE, masi mempunyai ciri2 peninggalan di zaman dulu, dari segi kepemimpinan dan rasa panatisme terhadap pemerintahannya. Dan sebagai fakta yang dapat diuraikan secara singkt proses terjadinya Desa Benteng TelluE adalah sebagai berikut:
1.
Secara Geographie:
Desa Benteng
TelluE berbatasan dengan Baringeng Kabupaten Soppeng, sesuai dengan data
analisa hijerahnya La Manna dari Baringeng ke BottoE dimana kawasan Benteng
TelluE berada disebelah Utara Tassipi yang membuktikan bahwa Benteng TelluE
dahulu adalah bahagian dari Kerajaan Amali yang berkedudukan di Taretta.
2.
Segi Sosioligie:
Rumpun masyarakat
Desa Benteng TelluE, merupakan satu keluarga dikalangan penduduk, sehingga
antara kampung dengan kampung masih erat pertalian darah dan hubungan keluarga
satu diantara keluarga yang lain.
3.
Segi Historis:
Peninggalan
penelitian sejarah yang masih dapat dipertanggung jawabkan hingga pada saat
sekarang ini antara lain sebagai berikut:
a.
Ketiga Benteng Pertahanan yang terdapat
didesa tersebut, masih ada bekas2 penggalian dan timbunan.
b. Bendera arajang yang tersendiri,
meskipun telah dibakar oleh Gerombolan pada masa kekacauan DI/TII, namun sampai
sekarang masih banyak saksi hidup yang pernah melihatnya bahkan yang
menyimpannya.
c.
Jaminan hak azasi kebebasan yang
dituntut oleh nenek moyang BottoE ( La Manna) kepada Arung Amali, membuktikan
pada masa sekarang ini rasa panatisme rakyat kepada pemimpinnya (Kepala
Desanya) yang diketahui unsur identitasnya, termasuk keturunan personal
kepemimpinannya dsb.
d.
Dari segi politik.
Kesadaran
masyarakat setempat terhadap masalah politik adalah wadah orde baru dengan
aspirasi politiknya 100% Golongan Karya, sedangkan dibidang Siskamling yang
memegang peranan adalah Hansip dan Masyarakat setempat.
e.
Bahasa:
Bahasa sebagai
alat komunikasi adalah bahasa Bugis yang secara nada dan langgamnya transisi
pengaruh Bone-Soppeng-Wajo.
f.
Dari segi ekonomi.
Mata pencaharian
pokok masyarakat setempat sebagai dataran tinggi, sebagian besar hidup dengan
hasil pertaniaannya berupa padi dan jagung, tembakau, pisang, kelapa dan
sebagainya, dan ada pula yang hidup dengan perdagangan kecil-kecilan dan
menjadi pegawai negeri, guru, dan pertukangan dsb.
Berdasarkan dengan
uraian tersebut, maka dapatlah diwujudkan beberapa bukti peninggalan sejarah
yang merupakan latar belakang terbentuknya Desa Benteng TelluE hingga pada saat
sekarang ini. Demikianlah proses perkembangan Desa ini mengikuti perkembangan
zaman dari masa kemasa.
Patut disadari,
bahwa sebagai daerah yang jauh terpencil dari kesibukan kota, tidak heran kalau
daerah ini pernah mangalami kehancuran total pada masa DI/TII Kahar Muzakkar di
Sulawesi Selatan dan nanti pada tahun 1964 baru bangun kembali dan dengan tekad
semangat “TULU TELLU PARAJOE TEA PETTU“ Desa Benteng TelluE sadar akan
ketinggalannya dan terus bangkit membangun memburu ketinggalannya yang selama
kurang lebih 14 tahun terisoler dari kesibukan pembangunan.
B.
PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN DESA BENTENG
TELLUE
Berbicara mengenai
perkembangan pembangunan Desa Benteng TelluE dapat dikatan baru dimulai sejalan
dengan pembentukan Desa Gaya Baru sebagai Keputusan Gubernur Kepala Daerah
Tingkat I Propinsi Sulawesi Selatan No.450/XII/1964, maka sejak itu pula Desa
Benteng TelluE telah dibina kembali dalam tiga pentahapan yaitu tahap
konsolidasi, rehabilitasi dan stabilitasi.
Namun secara
geografi Desa Benteng TelluE sejak tahun 1964, secara bertahap dibangun dengan
dana dan daya yang ada, sehingga setelah melalui tahap2 tersebut diatas, maka
Desa Benteng TelluE telah mencapai beberapa kemajuan jika dibanding dengan
masa2 sebelumnya.
Sebelum kita
menguraikan beberapa perkembangan yang telah dicapai oleh Desa Benteng TelluE,
kita harus memperhatikan lebih dahulu struktur organisasi Pemerintahan desanya
sebagai faktor penunjang dan pelaksana pembangunan.
C.
BIDANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DESA
Berbicara mengenai
Administrasi Pemerintahan, maka hal ini merupakan masalah yang sangat penting
dan menentukan, sebab pada hakikatnya yang menjadi inti dari pada organisasi
adalah administrasi.
Selanjutnya untuk
mencapai tingkat administrasi yang baik tergantung dari pada personal-personal
yang mantap, maka hal ini dapat digambarkan struktur organisasi pemerintahan
Desa Benteng TelluE sebagai berikut:
1.
Kepala Desa : Alimuddin Page.
2.
Sekertaris Desa : H. Abd. Hattab Page.
3.
Kepala Urusan Pemerintahan : M. Saad B.
4.
Kepala Urusan Ekonomi/Pemb-
ngunan :
H. Abd. Jabbar Page.
5.
Kepala Urusan Kesra : Hayyong.
6.
Kepala Urusan Keuangan : Abd. Majid Page.
7.
Kepala Urusan Umum : Syamsuddin
Tahier.
8.
Kepala-Kepala Dusun yang terdiri:
a.
Kepala Dusun TabbaE : M. Idrus.
b.
Kepala Dusun WanuaE : Sire.
c.
Kepala Dusun Kampung Lampe : Abd. Halim.
d.
Kepala Dusun Curikki : A.
Mappatang.
e.
Kepala Dusun Laponrong Riattang : M. Bahri Tahang.
f. Kepala Dusun Laponrong Riawang : Baba Katutu.
di samping personal-personal desa tersebut di atas, ada pula lembaga- lembaga desa dan Lembaga Masyarakat yang merupakan parner desa yaitu L.M.D dan L.K.M.D.
Apa yang kami
Kemukakan tentang administradi Pemerintahan Desa di atas dapat dilihat melalui
buku-buku administrasi yang ada di Kantor Desa, melalui Papan Potensi dan
lain-lainnya yang ada kaitannya dengan administrasi Pemerintahan, termasuk pula
Administrasi L.K.M.D dan P.K.K.
P E
N U T
U P
Di dalam
menguraikan buku Selayang Pandang Desa Benteng TelluE Kecamatan Ajangale
Kabupaten Daerah Tingka II Bone di susun dalam bentuk sederhana dan sangat jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, pada kata pengantar yang merupakan mukaddimah dari
Buku Seleyang Pandang ini, kami dahulukan permintaan maaf yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak atas koreksi yang bersifat membangun.
Buku ini disusun
bukan hanya sekadar dibuat dalam rangka mengukuti perlombaan Pembangunan Desa
Tingkat Propinsi Sulawesi Selatan tahun 1984/1985. Akan tetapi, merupakan bahan
yang sangat penting memperkenalkan Desa Benteng TelluE baik dari segi Geografisnya,
Demografie dan Adat-istiadatnya yang ada.
Untuk itu dapat
dikemukakan disini, bahwa pembangunan desa adalah bagian integral dari
pembangunan Nasional. Pembangunan desa bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan
kesejakteraan masyarakat desa sebagai usaha dari kegiatan pembangunan yang
dilaksanakan pada unit pemerintahan terendah di perdesaan sampai dengan di perkotaan. Oleh karena itu, istilah pembangunan desa sudah mengandung arti Pembangunan
Masyarakat Desa, dimana usaha2 Pemerintahan selalu berintegrasi dengan usaha2
masyarakat dengan maksud dan tujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang
mencakup berbagai aspek kehidupan. Pembangunan masyarakat itu pun sudah pula
mengandung arti pembagunan dengan pendekatan kemasyarakat, dengan partisipasi
masyarakat dan pengorganisaan masyarakat yang pelaksanaannya diorientasikan
sepenuhnya pada insentif dan kreasi masyrakat itu sendiri.
Sebuah kewajaran apabila di dalam setiap gerak langkah pembangunan itu dimana saja, haruslah bersama dan dengan mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat. Pada hakikatnya pembangunan manusia itu sendiri, yaitu pembangunan manusia untuk membangun dan meningkatkan rasa kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui perubahan sikap mental, pandangan hidup, cara berfikir dan berbuat, baik dalam membangun diri sendiri maupun masyarakat dan lingkungannya.
Sebagai akhir kata dari penutup Buku Selayang Pandang ini sebagai motto yang sangat berharga, kami cukilkan sekelumit kalimat dari Bab Penutup GBHN sbb. “Berhasilnya pembangunan nasional tergantung pada sikap mental, tekad dan semangat, ketaatan dan disiplin seluruh rakyat Indonesia serta para penyelenggara negara".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar